Palembang

ISPA Palembang Tertinggi dalam 3 Tahun, Syaiful Fadli: Jangan Tunggu Korban Bertambah

6
×

ISPA Palembang Tertinggi dalam 3 Tahun, Syaiful Fadli: Jangan Tunggu Korban Bertambah

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

 

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Kondisi kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat membuat DPRD Palembang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menunjukkan angka yang cukup tinggi.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang, Mgs Syaiful Fadli, mengungkapkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang tercatat mencapai 159.

Seiring memburuknya kualitas udara, kasus ISPA juga menjadi perhatian serius.

Data yang disampaikan Syaiful menunjukkan terdapat 655 kasus ISPA per hari di Kota Palembang. Sementara secara kumulatif, jumlah kasus ISPA sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 115.020 kasus.

“Kasus ISPA harian mencapai 655 kasus. Secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 115.020 kasus, dan angka ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir,” kata Syaiful.

Angka tersebut, kata dia, menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat agar tidak menganggap remeh dampak kabut asap akibat karhutla.

Menurut Syaiful, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan harus menjadi perhatian utama.

Mereka diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih berada dalam kondisi tidak sehat.

Sedangkan warga yang terpaksa melakukan aktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.

“Jangan sampai menunggu korban bertambah,” tegasnya.

ISPA 655 Kasus Sehari, Warga Diminta Waspada

Syaiful meminta masyarakat tidak menunggu kondisi semakin parah untuk mendapatkan pertolongan medis.

Warga yang mulai mengalami gejala gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga sesak napas diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Menurutnya, tingginya angka ISPA menjadi alasan kuat agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan di tengah buruknya kualitas udara Palembang.

“Kalau mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga sesak napas, segera periksakan diri ke Puskesmas,” ujarnya.

Kabut Asap Berdampak ke Sekolah

Dampak kabut asap kini tidak hanya menyentuh sektor kesehatan, tetapi juga aktivitas pendidikan.

DPRD Palembang sebelumnya meminta Dinas Pendidikan menyiapkan skenario Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) apabila kualitas udara semakin memburuk.

Langkah tersebut kini direalisasikan Pemerintah Kota Palembang.

Syaiful mengatakan Pemkot Palembang telah menggelar rapat bersama Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan RSUD Palembang BARI untuk membahas kondisi kualitas udara serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Hasil rapat tersebut, Pemkot Palembang memutuskan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai Rabu (9/9/2026).

“Alhamdulillah hasil rapat dengan Diknas, Dinkes dan Rumah Sakit BARI hari ini, Wali Kota Palembang dalam Surat Keputusan Wali Kota Nomor 33 Tahun 2026 menyampaikan mulai besok, Rabu (9/9/2026), Palembang melaksanakan PJJ,” kata Syaiful Selasa (8/9/2026).

Penerapan PJJ menjadi langkah antisipasi untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap siswa selama kondisi kualitas udara belum membaik.

Syaiful menilai keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas pemerintah di tengah ancaman kabut asap karhutla.

Ia juga mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah.

“Warga diimbau terus memantau kualitas udara dan mengikuti arahan dari Dinas Kesehatan maupun Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang,” pungkasnya. (WNA)