PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Dalam tiga hari terakhir, banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Kota Palembang. Pada Selasa, 21 April 2026, genangan air dengan ketinggian hingga lutut orang dewasa terjadi di sejumlah ruas jalan protokol, mulai dari Simpang Polda, Demang Lebar Daun KM 5, Sekip, hingga kawasan Veteran. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan panjang dan mengganggu aktivitas warga.
Mantan Wali Kota Palembang Ir. H. Eddy santan putra dua periode (2003-2013), menilai banjir yang berulang ini bukan semata disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan lemahnya pemeliharaan sistem drainase kota.
Menurut dia, Palembang sejatinya telah memiliki sistem pengendalian air yang cukup memadai, termasuk jaringan saluran besar dan kolam retensi di sejumlah titik strategis. Ia mencontohkan kawasan Bendung Sekanak yang terhubung dari wilayah RS Siti Fatimah, RSMH, Polda, hingga Basuki Rahmat.
“Di sana ada dua kolam retensi, salah satunya di Talang Aman. Harus dicek, apakah masih mampu menampung air atau tidak. Kalau sistem utama ini berfungsi baik, seharusnya wilayah di sekitarnya tidak mudah tergenang,” ujar Eddy, saat di hubungi melalui telepon selulernya, Kamis (23/4/2026)
Ia menjelaskan, aliran air dari kawasan tersebut seharusnya mengalir menuju sungai besar dan bermuara ke sungai Musi. Dengan kapasitas Sungai Musi yang besar, menurutnya, potensi banjir semestinya bisa diminimalkan.
“Kalau saluran utama lancar tapi tetap banjir, berarti masalahnya ada di saluran sekunder atau drainase kecil di permukiman. Ini yang sering luput dari perhatian,” katanya.
Eddy juga menyoroti pentingnya normalisasi saluran dan perawatan rutin. Ia menilai, pembangunan infrastruktur seperti pompa air tidak akan efektif tanpa diimbangi pemeliharaan yang konsisten.
“Percuma ada pompa kalau normalisasi tidak dilakukan. Saya juga melihat di lingkungan permukiman, got-got kecil harus dibersihkan rutin, minimal seminggu sekali melalui gotong royong warga,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya saat menjabat, Eddy mengaku mengoptimalkan peran “pasukan kuning” dengan dukungan alat berat seperti ekskavator yang siaga 24 jam untuk menangani persoalan drainase.
“Dulu kami siapkan pasukan kuning standby 24 jam. Begitu ada sumbatan atau genangan, langsung ditangani. Itu kuncinya,” kata dia.
Ia menegaskan, secara geografis Palembang tidak seharusnya mengalami banjir besar seperti yang terjadi saat ini, mengingat keberadaan Sungai Musi sebagai jalur utama aliran air. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi pasang air sungai tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
“Kalau Sungai Musi sedang pasang dengan debit tinggi, itu memang harus diantisipasi. Tapi di luar itu, persoalan utama tetap pada pemeliharaan sistem drainase,” ujar Eddy. (WNA)














