Ekonomi

UMKM Sumsel Bertahan di Tengah Tantangan Ekonomi, FORKETAS Dorong Produk Lokal Naik Kelas

3
×

UMKM Sumsel Bertahan di Tengah Tantangan Ekonomi, FORKETAS Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Sebarkan artikel ini

 

PALEMBANG, SUMSEL  JARRAKPOS, Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sumatera Selatan terus berupaya bertahan sekaligus mengembangkan usaha di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat dan tantangan ekonomi.

Ketua Umum Forum Komunikasi Ketua Komunitas UMKM (FORKETAS) Sumatera Selatan, Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., menilai UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi daerah, termasuk melalui berbagai kegiatan kuliner, ekonomi kreatif, hingga pariwisata.

FORKETAS sendiri berdiri pada 3 Maret 2023 dan menjadi wadah bagi berbagai komunitas serta asosiasi UMKM di Sumatera Selatan.

“Saat ini ada sekitar 28 asosiasi UMKM yang tergabung di FORKETAS. Anggota yang aktif dan sudah terdata melalui Google Form sekitar 2.200 orang,” ujar Sri Rahayu. Senin (17/8/2026).

Menurutnya, jumlah tersebut belum menggambarkan keseluruhan pelaku UMKM di Sumatera Selatan. Namun, keberadaan FORKETAS membuat para pelaku usaha memiliki wadah untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak swasta.

Bahkan, kata dia, jaringan FORKETAS kini mulai dikenal hingga tingkat nasional. Sejumlah perusahaan dari Jakarta yang membutuhkan keterlibatan pelaku UMKM dalam kegiatan juga menghubungi FORKETAS.

“Kami ini ibaratnya pejuang-pejuang rupiah. Orang bilang perjuangan receh, tetapi kami sebenarnya pendukung APBD. Kami terus berjuang menghadapi bantingan situasi ekonomi,” katanya.

Sri Rahayu mengungkapkan, salah satu tantangan yang kini dirasakan pelaku UMKM adalah perubahan mobilitas masyarakat, terutama ketika memasuki masa libur panjang.

Kondisi tersebut, menurutnya, turut berdampak terhadap omzet pedagang UMKM yang mengandalkan keramaian masyarakat di pusat kegiatan ekonomi dan kuliner.

“Awal pembukaan, omzet ada yang bisa mencapai Rp5 juta dalam satu malam. Sekarang ada yang hanya Rp400 ribu, meskipun ada juga yang masih bisa mencapai Rp2 juta,” ungkapnya.

Ia khawatir masyarakat Sumatera Selatan lebih memilih bepergian ke luar daerah ketika libur panjang, salah satunya menuju Provinsi Lampung untuk menikmati wisata pantai.

Padahal, menurut Sri Rahayu, Sumatera Selatan memiliki potensi wisata kuliner dan kebudayaan yang tidak kalah menarik.

Ia berharap pengembangan pariwisata di Sumatera Selatan dapat semakin terintegrasi dengan sektor UMKM sehingga masyarakat yang berwisata di dalam daerah juga ikut menggerakkan roda ekonomi pelaku usaha lokal.

“Harus ada daya tarik supaya ketika libur panjang Palembang tidak sepi. Kita punya wisata kuliner yang sangat kaya dan kebudayaan yang bisa menjadi daya tarik,” ujarnya.

Di tengah perubahan tren konsumsi, produk makanan lokal disebut masih menjadi salah satu sektor yang relatif kuat.

Sri Rahayu mengatakan, produk berbasis kuliner khas Sumatera Selatan, termasuk pempek dan berbagai turunannya, tetap memiliki pasar.

Selain makanan berat, konsep tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan dan minuman juga semakin diminati, khususnya oleh generasi muda.

Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya mencari tempat untuk makan, tetapi juga ruang yang nyaman untuk bersosialisasi, bekerja, maupun mengerjakan tugas.

“Yang penting ada Wi-Fi, nyaman dan tidak diusir. Pesan teh atau kopi satu gelas, tetapi bisa berjam-jam di situ, itu yang dicari,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Sri Rahayu, seharusnya dapat dilihat pengelola kafe sebagai peluang bisnis.

Sebab, banyak anak muda membutuhkan ruang yang nyaman dan fleksibel untuk mengerjakan tugas atau bekerja tanpa merasa diburu untuk terus melakukan pemesanan.

“Wi-Fi gratis terutama itu. Anak-anak sekarang mencari tempat yang nyaman, bebas, santai dan tidak dikejar-kejar dengan order,” jelasnya

FORKETAS juga mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi mulai membangun usaha secara profesional.

Sri Rahayu mengatakan, salah satu syarat penting untuk bergabung dalam komunitasnya adalah pelaku usaha memiliki dasar hukum yang jelas.

“Kalau mau bergabung, minimal sudah punya dasar hukum, artinya sudah punya AHU,” katanya.

Menurutnya, UMKM juga harus mulai membangun standar operasional, pencatatan keuangan, serta menjaga konsistensi kualitas produk.

Ia mencontohkan, usaha yang sudah berjalan beberapa tahun dan memiliki laporan keuangan yang baik akan lebih mudah dikembangkan untuk masuk ke pasar yang lebih besar.

“Jangan hanya bisa membuat cireng, tetapi harus punya kemampuan membuat cireng dengan standar yang jelas. Jadi produknya tidak hanya bisa beredar di dalam provinsi, tetapi juga mampu keluar Sumatera Selatan,” ujarnya.

Sri Rahayu juga melihat sektor fashion memiliki peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pakaian untuk berbagai kegiatan.

Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini, misalnya, turut membuka peluang bagi pelaku usaha penyewaan dan penjualan pakaian adat.

Imbauan penggunaan pakaian adat dalam berbagai kegiatan, menurutnya, dapat menjadi stimulus bagi UMKM yang bergerak di bidang fashion tradisional.

“Acara 17 Agustus dengan imbauan menggunakan pakaian adat tentu membangkitkan semangat teman-teman yang memiliki usaha persewaan maupun penjualan pakaian adat,” katanya.

FORKETAS juga aktif memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.

Dalam sejumlah kegiatan, sekitar 100 hingga 110 pelaku UMKM dapat difasilitasi untuk berjualan.

Sri Rahayu mengatakan, pelaku usaha yang mendapatkan kesempatan berjualan juga dilakukan secara bergilir karena jumlah pendaftar cukup banyak.

“Ratusan yang mendaftar, sementara tempat dan tenda yang kita siapkan terbatas. Karena itu kita gilir. Ada yang sudah berjualan, kemudian diganti dengan UMKM lainnya,” jelasnya.

Langkah tersebut dilakukan agar semakin banyak pelaku UMKM mendapatkan kesempatan memasarkan produk secara langsung kepada konsumen.

Di sisi lain, Sri Rahayu mengajak pelaku UMKM untuk tidak alergi terhadap pajak. Menurutnya, pajak merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang pada akhirnya kembali dirasakan masyarakat.

Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur jalan yang sangat berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau tidak ada pajak, siapa yang membangun jalan? Kalau jalan rusak, biaya transportasi naik. Kalau biaya transportasi naik, harga jual naik. Ketika harga jual naik, kemampuan membeli turun,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta masyarakat memahami kewajiban perpajakan secara positif, selama proses pemungutan dan pengelolaannya dilakukan secara amanah dan transparan.

Sri Rahayu menyadari bahwa kepemimpinan dalam organisasi tidak selamanya berada di tangannya.

Ia berharap ke depan akan muncul generasi baru yang mampu melanjutkan perjuangan untuk memperkuat UMKM Sumatera Selatan.

“Saya tidak selamanya menjadi ketua. Nanti akan ada ketua yang baru yang dipilih. Harapan saya tetap peduli kepada teman-teman UMKM, berlaku adil dan memberikan edukasi,” katanya.

Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar UMKM tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menembus pasar nasional.

Ia menekankan pentingnya pengetahuan, legalitas, kualitas produk, standar usaha, serta kemampuan mengelola keuangan.

“Pengetahuan dan prestasi itu sangat penting. Silakan kalau mau hanya jual cireng, tetapi harus punya kemampuan untuk membuat cireng yang berkualitas dan memenuhi standar,” pungkasnya. (WNA)