Palembang

SARDUNDUN: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende

11
×

SARDUNDUN: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, Tradisi lisan masyarakat Semende, Sumatera Selatan, kembali dihidupkan melalui pertunjukan tari teatrikal “Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende” yang dipentaskan di Lawang Borotan, Selasa (30/6/2026).

Pertunjukan ini tidak sekadar menyuguhkan hiburan, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan spiritualitas yang selama ini melekat dalam tradisi membangun rumah masyarakat Semende.

Dalam budaya Semende, mendirikan rumah bukan hanya pekerjaan sebuah keluarga, melainkan tanggung jawab bersama.

Kaum lelaki bergotong royong mendirikan tiang dan memasang rangka rumah, sementara perempuan menyiapkan hidangan bagi para pekerja.

Anak-anak menyaksikan proses pembangunan, sedangkan para tetua memanjatkan doa agar rumah yang dibangun membawa keselamatan dan keberkahan.

Di tengah prosesi tersebut, dilantunkan Sardundun, sebuah sastra tutur yang diwariskan secara turun-temurun. Nyanyian ini dinyanyikan saat kerangka rumah telah berdiri dan atap mulai dipasang.

Lebih dari sekadar lagu pengiring pekerjaan, Sardundun berisi doa dan harapan agar penghuni rumah memperoleh keselamatan, rezeki yang baik, kehidupan yang tenteram, serta hubungan yang harmonis dengan sesama maupun alam.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi itu semakin jarang dijumpai. Rumah-rumah panggung kayu kini banyak berganti dengan bangunan modern yang dikerjakan oleh jasa konstruksi. Bersamaan dengan itu, ruang bagi tradisi Sardundun pun ikut menyusut.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, pertunjukan ini hadir sebagai bentuk pelestarian budaya melalui pendekatan seni pertunjukan.

Kisah diawali dari seorang anak yang mendengar cerita tentang Sardundun dari sang kakek. Dari cerita sederhana itu, penonton diajak menyelami kehidupan masyarakat Semende ketika semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam setiap pembangunan rumah.

Melalui perpaduan tari, dialog teatrikal, musik, serta tata artistik, pertunjukan ini menghadirkan kembali nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, penghormatan terhadap alam, dan rasa syukur kepada Tuhan dalam bahasa seni yang dekat dengan generasi masa kini.

Pertunjukan ini tidak berupaya merekonstruksi tradisi secara utuh, melainkan menghidupkan kembali makna dan semangat yang terkandung di dalamnya.

Di atas panggung, Sardundun bukan sekadar dikenang sebagai nyanyian masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama nilai-nilai yang melahirkannya terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tepuk tangan yang mengakhiri pementasan menjadi penghormatan, bukan hanya bagi para seniman, tetapi juga bagi tradisi yang mengajarkan bahwa membangun rumah sejatinya adalah membangun persaudaraan.

Pertunjukan “Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende” dikoreografi oleh Sonia Anisa Utami, M.Sn, disutradarai Hasan, M.Sn, dengan penata musik Rio Eka Putra, M.Sn, serta dipimpin oleh Irfan Kurniawan sebagai pimpinan produksi.

Kegiatan ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesia Raya sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan Indonesia.

Pementasan turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan Sri Guniarto, perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dr. Agung, Kepala Bidang Sejarah dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Palembang Desi Muharman, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan M. Iqbal Rudianto, serta Ketua Dewan Kesenian Palembang Muhammad Nasir.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan generasi masa kini, sekaligus mengingatkan bahwa gotong royong dan kebersamaan merupakan warisan budaya yang layak terus dijaga dan diwariskan. (*)