PolitikNasional

Fakar Indonesia Serukan Revolusi Kesadaran SDM, Dukung Kepemimpinan Prabowo Perkuat Karakter Bangsa

36
×

Fakar Indonesia Serukan Revolusi Kesadaran SDM, Dukung Kepemimpinan Prabowo Perkuat Karakter Bangsa

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS — Dewan Pimpinan Pusat Fakar Indonesia menyerukan pentingnya revolusi kesadaran sumber daya manusia (SDM) sebagai agenda prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Organisasi tersebut menilai bahwa pembangunan Indonesia ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi harus disertai penguatan karakter, etika, dan kesadaran kebangsaan.

Ketua Umum DPP Fakar Indonesia, Aka Cholik Darlin, SPdI, SH, MM, menegaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan figur cerdas dan tokoh-tokoh berkapasitas tinggi di berbagai sektor.

Namun, menurutnya, persoalan mendasar yang dihadapi adalah melemahnya kesadaran kolektif sebagai bangsa besar.

“Indonesia hari ini dipenuhi orang-orang pintar, lulusan terbaik, ahli di berbagai bidang. Tetapi yang kita butuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual.

Kita membutuhkan kesadaran kebangsaan, etika publik, dan arah perjuangan yang jelas. Tanpa itu, kecerdasan bisa kehilangan makna,” ujar Aka dalam keterangan persnya, Jumat (27/2).

Ia menilai gejala sosial yang berkembang belakangan ini mulai dari menurunnya budaya hormat-menghormati, polarisasi sosial, hingga menguatnya pragmatisme politik menjadi sinyal bahwa pembangunan SDM belum sepenuhnya menyentuh aspek moral dan karakter.

Menurut Aka, momentum pemerintahan Presiden Prabowo harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi nasional berbasis nilai.

Ia menyebut, Indonesia sebagai bangsa besar dengan sejarah panjang perjuangan tidak boleh kehilangan jati diri hanya karena dinamika politik dan kompetisi kekuasaan.

“Presiden Prabowo memiliki legitimasi politik dan energi nasional untuk memimpin agenda besar pembenahan karakter bangsa.

Ini saatnya negara hadir membangun kesadaran kolektif bahwa Indonesia adalah bangsa pejuang, bangsa yang menjunjung tinggi etika, persatuan, dan gotong royong,” tegasnya.

Aka juga mendorong agar reformasi kebijakan pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik dan angka-angka statistik, tetapi juga pada pembentukan manusia Indonesia yang berintegritas.

Ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, serta keteladanan di ruang-ruang publik dan birokrasi.

“Pembangunan fisik bisa kita lihat dan ukur. Tetapi pembangunan mental dan etika adalah fondasi jangka panjang.

Jika kesadaran SDM kita rapuh, maka sehebat apa pun infrastruktur yang dibangun, bangsa ini akan mudah goyah,” katanya.

Lebih lanjut, Aka menilai bahwa politik nasional harus kembali pada substansi perjuangan rakyat, bukan sekadar kompetisi elektoral lima tahunan.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk partai politik, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan generasi muda, untuk bersama-sama membangun budaya politik yang beradab dan berorientasi pada kepentingan nasional.

“Politik harus menjadi alat pemersatu dan penguat bangsa. Kita tidak boleh terus terjebak pada polarisasi. Kesadaran SDM yang kuat akan melahirkan elite dan masyarakat yang dewasa dalam berpolitik serta menjunjung tinggi etika dalam perbedaan,” ujarnya.

Fakar Indonesia, lanjut Aka, siap menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis pemerintah dalam mengawal agenda penguatan karakter bangsa.

Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo harus dibarengi dengan kontrol sosial yang konstruktif demi memastikan cita-cita Indonesia maju tidak kehilangan ruh kebangsaan.

“Kami percaya Indonesia mampu menjadi bangsa besar yang disegani dunia. Tetapi syaratnya jelas: SDM yang tidak hanya unggul secara kompetensi, melainkan juga kokoh dalam moralitas, disiplin, dan rasa cinta tanah air. Revolusi kesadaran inilah yang harus kita mulai sekarang,” pungkas Aka. ***