OKI, SUMSELJARRAKPOS – Bentrokan antarwarga Desa Jambu Ilir dan Desa Bumi Agung, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menewaskan seorang ayah dan dua putranya.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis malam (15/10/2026) itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Tiga korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut yakni Wahid (50), M. Farel (18), dan Doni Pratama (30).
Di mata warga Desa Jambu Ilir, ketiganya dikenal sebagai sosok yang ramah, baik hati, mudah bergaul, serta peduli terhadap sesama.
Kepergian mereka menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan masyarakat yang selama ini mengenal mereka.
Sekretaris Desa (Sekdes) Jambu Ilir, Burhan, mengaku sempat berbincang dengan Wahid pada Kamis sore (15/10/2026) beberapa jam sebelum bentrokan terjadi. Saat itu, keduanya berbincang dan bertukar pikiran seperti biasa.
“Sore sebelum kejadian, saya sempat berbincang dan bertukar pikiran dengan beliau seperti biasanya,” kata Burhan saat dikonfirmasi, pada Rabu (20/10/2026).
Ia mengaku tidak menyangka pertemuan pada sore itu menjadi momen terakhirnya bersama Wahid.
Menurut Burhan, Wahid dan kedua putranya dikenal sebagai pribadi yang ramah dan senang membantu orang lain.
Karena itu, kepergian ketiganya meninggalkan kesedihan mendalam bagi warga yang mengenal keluarga tersebut.
“Kami sangat kehilangan. Pak Wahid dan kedua anaknya dikenal sebagai orang yang ramah, baik hati, mudah bergaul, dan senang membantu orang lain.
Kami tidak menyangka kejadian ini akan berakhir seperti ini. Kami berharap kasus ini diusut tuntas,” ujarnya.
Perselisihan Diduga Bermula dari Media Sosial
Burhan mengatakan, berdasarkan informasi awal yang beredar di masyarakat, perselisihan tersebut diduga bermula dari saling sindir di media sosial sebelum berlanjut hingga terjadi pertemuan di lokasi kejadian.
“Kalau kronologi pastinya, kami belum tahu. Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan ada saling sindir di media sosial hingga akhirnya terjadi pertemuan,” kata Burhan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perselisihan itu diduga berlanjut melalui pesan WhatsApp sebelum kedua pihak bertemu di kawasan jembatan dekat Pasar Tanjung Lubuk.
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama bentrokan.
Kepastian mengenai latar belakang dan rangkaian peristiwa masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Pasca kejadian, Burhan menyebut situasi di Desa Jambu Ilir tetap kondusif dan masyarakat menjalankan aktivitas seperti biasa.
Ia mengimbau warga tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
“Kondisi Desa Jambu Ilir tetap kondusif. Kami mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,”pesannya.
Burhan berharap aparat penegak hukum mengusut perkara tersebut secara menyeluruh, mengungkap fakta sebenarnya, serta memproses pihak-pihak yang terbukti terlibat sesuai hukum yang berlaku.
“Kami berharap kasus ini diusut sampai tuntas. Ungkap fakta yang sebenarnya dan pastikan proses hukum berjalan adil agar keluarga korban mendapatkan keadilan,” tegasnya.
Warga Berharap Pihak yang Bertanggung Jawab Diungkap
Harapan serupa disampaikan warga Jambu Ilir, Mustofa, yang akrab disapa Topa. Ia mengaku turut berduka atas meninggalnya Wahid dan kedua putranya yang selama ini dikenal ramah, baik hati, mudah bergaul, dan senang membantu sesama.
“Kami sangat berduka atas kepergian Pak Wahid dan kedua putranya. Mereka dikenal sebagai sosok yang ramah, baik hati, mudah bergaul, dan senang membantu sesama.
Kepergian mereka menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan warga yang mengenal mereka,” ujar Topa.
Ia berharap kepolisian mengusut tuntas perkara tersebut agar fakta di balik bentrokan yang merenggut tiga nyawa itu dapat terungkap dan keadilan bagi keluarga korban dapat diwujudkan.
“Kami berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Siapa pun yang terbukti bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” katanya.
Topa juga meminta penyidik mengungkap seluruh rangkaian peristiwa, termasuk latar belakang perselisihan dan peran masing-masing pihak berdasarkan keterangan saksi serta alat bukti yang ditemukan.
Menurutnya, pengungkapan kasus secara menyeluruh penting agar masyarakat mengetahui duduk perkara sebenarnya dan peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Doni Tinggalkan Istri yang Sedang Mengandung
Duka keluarga semakin mendalam setelah Doni Pratama meninggal dunia usai menjalani perawatan medis akibat luka yang dialaminya dalam bentrokan tersebut.
Doni diketahui meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung anak pertama mereka.
Kepergiannya menambah pilu keluarga yang harus kehilangan tiga anggota keluarga dalam satu peristiwa.
Sebelumnya, Wahid dan M. Farel juga meninggal dunia akibat bentrokan tersebut.
Dengan meninggalnya Doni, jumlah korban jiwa dalam insiden itu menjadi tiga orang.
Polisi Mengamankan Dua Orang
Dalam perkembangan penanganan perkara, Kasatreskrim Polres OKI, AKP M. Raka Dwi Darma, S.Tr.K., S.I.K., M.M., membenarkan bahwa penyidikan kasus bentrokan tersebut masih berlangsung saat dikonfirmasi pada Minggu (18/10/2026).
“Benar, perkara tersebut masih didalami. Nanti akan kami sampaikan lebih lanjut,” ujar Raka.
Ia menjelaskan, dua orang yang telah diamankan polisi masih menjalani perawatan medis.
Sementara itu, penyidik terus mendalami motif kejadian dan dugaan keterlibatan masing-masing pihak.
“Kami sudah mengamankan dua orang. Motif dan keterlibatan mereka masih dalam proses pengembangan dan penyidikan,” katanya.
Raka menegaskan, proses penyidikan masih berjalan untuk mengungkap peristiwa tersebut berdasarkan fakta yang ditemukan.
Karena itu, motif maupun peran pihak-pihak yang diamankan belum dapat disimpulkan sebelum proses penyidikan lebih lanjut.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi serta bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.
“Kami mengimbau masyarakat tidak terprovokasi dan bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif,” pungkasnya.***












