Opini & Tajuk

Program GSMP Sumsel: Mendorong Produktivitas dari Pekarangan Menuju Ekonomi Rakyat

12
×

Program GSMP Sumsel: Mendorong Produktivitas dari Pekarangan Menuju Ekonomi Rakyat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ir. Agus Darwa, M.Si

Ketua Himpunan Masyarakat Tani Nusantara Merah Putih Sumatera Selatan

SUMSELJARRAKPOS – Ketika berbicara tentang ketahanan pangan, yang sering muncul dalam pikiran kita adalah sawah, perkebunan, peternakan, atau lahan pertanian dalam skala luas. Padahal, ada ruang yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: pekarangan rumah.

Dari ruang sederhana itulah gagasan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) hadir. Program yang digagas Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M. ini membawa isu kemandirian pangan lebih dekat kepada masyarakat, dengan mendorong rumah tangga ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Menurut saya, gagasan tersebut perlu terus dikembangkan. Sebab, kemandirian pangan tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak bibit yang dibagikan atau berapa banyak rumah yang melakukan penanaman.

Menanam adalah awal. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana tanaman tumbuh, menghasilkan, memberi manfaat dan pada akhirnya mampu meningkatkan produktivitas serta ekonomi keluarga.

Jangan Berhenti di Pekarangan

Pekarangan memang bukan lahan pertanian dalam pengertian konvensional.

Luasnya terbatas dan jenis tanaman yang bisa dikembangkan pun menyesuaikan kondisi masing-masing rumah.

Namun, jika dilakukan oleh ribuan bahkan ratusan ribu keluarga, potensi tersebut tentu tidak kecil.

Bayangkan jika setiap rumah mampu menghasilkan sebagian kebutuhan cabai, sayuran, buah, telur atau komoditas pangan lainnya.

Pengeluaran rumah tangga dapat ditekan. Jika produksi berlebih, hasilnya dapat dijual.

Di titik inilah GSMP dapat bergerak dari sekadar gerakan menanam menjadi gerakan produktif.

Bibit Bukanlah Tujuan Akhir

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan setelah masyarakat menerima bantuan atau bibit.

Tanaman membutuhkan perawatan. Masyarakat membutuhkan pengetahuan. Ada persoalan hama, pupuk, teknologi budidaya, keterbatasan lahan, hingga pemasaran.

Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting.

Perguruan tinggi, penyuluh, kelompok tani, pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat dapat dipertemukan dalam satu ekosistem.

Perguruan tinggi misalnya dapat membantu teknologi dan inovasi, sementara penyuluh mendampingi aspek teknis di lapangan.

Dengan pola seperti ini, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi memiliki kemampuan untuk mengelola produksi secara mandiri.

Ketika Pangan Menjadi Sumber Pendapatan

Kemandirian pangan memiliki hubungan erat dengan ekonomi keluarga.

Hasil kebun rumah tangga yang dikonsumsi sendiri berarti mengurangi sebagian pengeluaran. Sementara kelebihan produksi dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.

Tetapi ada satu persoalan yang tidak boleh dilupakan: pasar.

Produksi yang meningkat tanpa kepastian pasar justru dapat menimbulkan masalah baru.

Harga bisa jatuh ketika pasokan melimpah, sementara produk pertanian memiliki keterbatasan daya simpan.

Karena itu, sejak awal produksi sebaiknya sudah dipikirkan ke mana hasilnya akan disalurkan.

GSMP Perlu Terhubung dengan Pasar

Menurut saya, pengembangan GSMP ke depan perlu mulai menggunakan pendekatan rantai pasok.

Artinya, masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan komoditas, tetapi juga memahami kebutuhan pasar.

Komoditas apa yang dibutuhkan? Berapa volumenya? Bagaimana kualitasnya? Kapan harus tersedia? Siapa pembelinya? Bagaimana sistem pembayarannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kegiatan produksi tidak berjalan sendiri.

Kelompok masyarakat dapat diarahkan membangun kerja sama dengan koperasi, UMKM pangan, hotel, restoran, katering, pasar modern maupun pembeli lainnya. Dengan begitu, produksi masyarakat memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas.

Beberapa Langkah yang Bisa Dikembangkan

Agar GSMP semakin berorientasi pada produktivitas, terdapat beberapa hal yang menurut saya dapat dipertimbangkan.

Pertama, membangun basis data GSMP yang terintegrasi. Data tidak hanya berisi penerima bantuan, tetapi juga lokasi, luas lahan, komoditas, jumlah produksi, kelompok yang masih aktif dan akses pasar.

Kedua, membangun “Klinik GSMP”. Fasilitas ini dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh konsultasi mengenai budidaya, teknologi, pengendalian hama, pascapanen, harga dan pemasaran.

Ketiga, mengubah pola pendampingan. Keberhasilan tidak cukup dihitung dari jumlah kegiatan, tetapi dari hasilnya: berapa kelompok yang produktif, berapa produksi yang dihasilkan dan berapa nilai ekonomi yang tercipta.

Keempat, memperkuat kemitraan pasar. Kerja sama harus dibuat lebih konkret dengan menentukan jenis komoditas, standar kualitas, volume, waktu pengiriman dan mekanisme pembayaran.

Kelima, mendorong hilirisasi. Tidak semua hasil harus dijual dalam bentuk bahan mentah. Sebagian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya simpan lebih panjang.

Keenam, membuka akses pembiayaan produktif. Kelompok yang sudah memiliki produksi dan rencana usaha dapat diarahkan mendapatkan pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan usahanya.

Ketujuh, memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kampus dapat membantu pemetaan komoditas, teknologi budidaya, pengolahan hasil, model bisnis hingga evaluasi program.

Kedelapan, memberikan apresiasi berbasis kinerja. Kelompok yang mampu mempertahankan produksi, meningkatkan produktivitas, membuka pasar atau menghasilkan inovasi dapat diberikan dukungan sesuai capaian.

Jangan Hanya Menghitung Penerima

Ukuran keberhasilan program pangan menurut saya perlu bergeser.

Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak bantuan yang sudah diberikan?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak masyarakat yang masih aktif?

Berapa produksi yang dihasilkan? Apakah kebutuhan pangan rumah tangga berkurang? Apakah ada hasil yang dijual? Berapa nilai ekonomi yang tercipta?

Dari sana kita dapat melihat apakah sebuah program benar-benar menghasilkan perubahan atau hanya berhenti pada kegiatan administratif.

Dari Program Menjadi Gerakan Ekonomi

GSMP memiliki ruang untuk berkembang lebih jauh. Pekarangan dapat menjadi pintu masuk, tetapi tujuan akhirnya tidak harus berhenti di sana.

Jika dikelola secara konsisten, GSMP dapat mempertemukan pertanian, pendidikan, teknologi, kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem.

Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan pembuat kebijakan. Masyarakat menjadi pelaku utama.

Perguruan tinggi memberikan pengetahuan dan inovasi. Dunia usaha membuka akses pasar.

Sementara kelompok masyarakat menjaga agar kegiatan tersebut terus berjalan.

Pada akhirnya, keberhasilan GSMP bukan sekadar berapa banyak tanaman yang tumbuh di pekarangan.

Yang lebih penting adalah apakah gerakan tersebut mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan pangan dari luar rumah tangga, menciptakan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru.

Dari rumah kita mulai. Dari pekarangan kita tanam. Dari produksi kita tingkatkan produktivitas. Dari pasar kita ciptakan nilai tambah. Dan dari pangan kita bangun ekonomi rakyat Sumatera Selatan.***