Palembang

Karhutla Kepung Palembang, 185 Hektare Lahan Terbakar: Ratu Dewa Bentuk Tim Reaksi Cepat

6
×

Karhutla Kepung Palembang, 185 Hektare Lahan Terbakar: Ratu Dewa Bentuk Tim Reaksi Cepat

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, Pemerintah Kota Palembang memperketat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meluasnya lahan terbakar dan meningkatnya dampak kabut asap. Sedikitnya 185 hektare lahan dilaporkan telah terbakar, sementara sekitar 277 hektare lahan lainnya mengalami kekeringan.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan kondisi tersebut membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi. Ia memimpin rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Selasa pagi, 1 September 2026.

Dalam rapat tersebut, Ratu Dewa meminta setiap OPD memaparkan langkah konkret untuk mempercepat penanganan karhutla di wilayah Palembang, termasuk pemetaan titik rawan serta kesiapan personel dan peralatan.

“Tim harus turun ke lapangan, termasuk mengantisipasi penyemprotan di titik-titik yang berpotensi,” ujar Ratu Dewa.

Data yang dipaparkan dalam rapat menunjukkan lahan terbakar mencapai 185 hektare dan tersebar di sejumlah wilayah Palembang. Sementara lahan yang mengalami kekeringan tercatat sekitar 277 hektare, antara lain berada di Kecamatan Gandus, Kertapati, dan Sematang Borang.

Tim Reaksi Cepat hingga Kelurahan

Ratu Dewa meminta penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan tim di tingkat kota. Pemerintah kota akan memperkuat koordinasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan melalui pembentukan Tim Reaksi Cepat.

Menurut dia, keberadaan tim tersebut penting agar potensi kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.

Pemkot juga meminta seluruh unsur terkait melakukan rekapitulasi titik-titik rawan kebakaran dan segera mengajukan kebutuhan bantuan, baik melalui pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

Penanganan dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, serta perangkat daerah terkait.

Pasien ISPA Meningkat, Air Bersih Mulai Krisis

Kabut asap akibat karhutla mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Ratu Dewa mengatakan terjadi peningkatan pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terdata di 30 rumah sakit dan puskesmas di Palembang.

Meski demikian, ia menyebut perkembangan kasus mulai menunjukkan tren penurunan berdasarkan kurva mingguan dan harian.

“Untuk ISPA memang ada peningkatan, tetapi berdasarkan kurva mingguan dan harian, kasusnya mulai menunjukkan penurunan,” kata Ratu Dewa.

Dampak musim kering juga dirasakan masyarakat melalui keterbatasan air bersih. Pemkot Palembang saat ini menangani persoalan tersebut di Kecamatan Seberang Ulu dan Sukarami.

Distribusi air bersih dilakukan dengan mengerahkan sekitar 64 tangki setiap hari. Pemkot juga mendapat tawaran dukungan armada tangki air dari Komando Distrik Militer (Kodim) dan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud).

Sekolah dan CFD Bisa Dibatasi

Pemerintah Kota Palembang juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi apabila kondisi kabut asap semakin memburuk.

Kebijakan yang disiapkan antara lain penyesuaian kegiatan sekolah serta pembatasan kegiatan luar ruang seperti Car Free Day (CFD) dan Car Free Night (CFN).

Pemkot menyatakan pemantauan kondisi di lapangan akan dilakukan secara berkelanjutan untuk menentukan langkah berikutnya.

Ratu Dewa juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh api, terutama di tengah kondisi lahan yang kering.

“Hati-hati dengan api. Hal sekecil apa pun, hati-hati dengan api. Api kecil apa pun bisa jadi buas,” ujar dia.

Palembang Ikut Terdampak Kebakaran Daerah Lain

Mengenai kualitas udara, Ratu Dewa mengatakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang pada Selasa menunjukkan penurunan. Namun, kondisi udara Palembang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebakaran yang terjadi di dalam wilayah kota.

Ia mengakui Palembang juga merasakan dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kabupaten dan kota lain di Sumatera Selatan.

Karena itu, penanganan karhutla dinilai membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan dukungan dari berbagai tingkatan pemerintahan.

Rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut dari koordinasi sebelumnya bersama kepala daerah dan Gubernur Sumatera Selatan. Pemkot Palembang memastikan pemantauan lapangan terus dilakukan agar setiap titik rawan dapat segera diidentifikasi dan ditangani.

Dengan 185 hektare lahan terbakar dan 277 hektare lahan dalam kondisi kering, pemerintah kini berpacu dengan waktu. Sebab, dalam situasi lahan yang mudah terbakar, satu titik api yang terlambat ditangani berpotensi berubah menjadi kebakaran yang lebih luas dan memperburuk kualitas udara Palembang. (*)