Berita

Yayasan Intan Maharani Libatkan Mahasiswa Kampanye Anti Diskriminasi terhadap ODHIV

77
×

Yayasan Intan Maharani Libatkan Mahasiswa Kampanye Anti Diskriminasi terhadap ODHIV

Sebarkan artikel ini

 

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, – Kasus HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data UNAIDS, baru sekitar 66 % orang dengan HIV mengetahui status kesehatannya, sementara hanya 26% yang menjalani pengobatan. Kondisi ini menunjukkan masih perlunya kerja bersama lintas sektor untuk mengejar target global 95-95-95 dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Tidak hanya melalui pendekatan kesehatan, upaya penanggulangan HIV juga dinilai harus menyentuh aspek hukum, sosial, budaya hingga hak asasi manusia. Sebab, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) serta kelompok populasi kunci masih menjadi hambatan terbesar dalam penanganan kasus di Indonesia.

Berangkat dari kondisi tersebut, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) melalui Yayasan Intan Maharani (YIM) sebagai Sub-Sub Recipient (SSR) Program Penjangkauan Kelompok Populasi Kunci Female Sex Workers dan pelaksana Program Community Strengthening System-Human Rights (CSS-HR) Indonesia AIDS Coalition (IAC), menggelar kegiatan bertajuk Workshop on Regular Monitoring on Stigma and Discrimination Related to HIV Response at District Level – Mainstreaming Response to Gender and Human Rights Issues in Multi-Stakeholder Forums at the District Level.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel The Zuri Transmart Palembang, Selasa (19/5/2026) ini mengusung tema besar membangun pemahaman generasi muda dan kalangan akademisi terhadap isu HIV/AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS), komunitas populasi kunci hingga ragam gender di Kota Palembang.

PIC sekaligus Paralegal Officer Koordinator CSS-HR Yayasan Intan Maharani, Anyk Kurniati mewakili Leonardo S mengatakan, kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada perubahan pola pikir generasi muda terhadap HIV/AIDS.

oplus_2

“Selama ini HIV sering dianggap penyakit yang menakutkan. Padahal yang paling penting adalah bagaimana kita memahami persoalan kesehatan ini secara benar dan memperlakukan orang dengan HIV secara manusiawi tanpa stigma,” ujarnya.

Menurutnya, pelibatan mahasiswa dan generasi muda menjadi penting karena angka penularan HIV juga banyak ditemukan pada usia produktif dan kalangan muda.

“Kami ingin generasi muda menjadi lebih preventif dalam menjaga kesehatan mereka dan memiliki pemahaman yang benar terkait HIV/AIDS,” katanya.

Dalam workshop tersebut, panitia menghadirkan sekitar 70 hingga 100 peserta dari berbagai kampus di Kota Palembang. Sejumlah perguruan tinggi yang terlibat di antaranya perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas dan sekolah tinggi di Palembang.

Anyk menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju program edukasi yang lebih luas ke lingkungan kampus pada Juni mendatang. Palembang menjadi salah satu kota tujuan program nasional yang didukung oleh Indonesia AIDS Coalition melalui pendanaan Global Fund.

“Nantinya tim dari Jakarta juga akan turun langsung melakukan edukasi ke kampus-kampus. Harapannya mahasiswa yang ikut kegiatan ini bisa menjadi edukator di lingkungan pergaulan dan komunitas mereka sendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak penyelenggara menargetkan lima hingga enam kampus di Kota Palembang untuk terlibat dalam program edukasi tersebut.

Sementara itu, mahasiswa Universitas Tridinanti Palembang, Ahmad, mengaku mendapatkan banyak pemahaman baru dari kegiatan tersebut, terutama terkait pentingnya menghormati dan memperlakukan ODHIV secara setara.

“Kami belajar bagaimana memperlakukan orang dengan HIV/AIDS secara manusiawi dan bagaimana mengedukasi masyarakat agar tidak lagi memberikan stigma maupun diskriminasi,” katanya.

Workshop ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi penting dari masyarakat sipil, komunitas, dan kalangan akademisi yang nantinya dapat disampaikan kepada pemerintah daerah hingga pemerintah pusat sebagai bagian dari penguatan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS yang lebih inklusif dan berbasis hak asasi manusia. (WNA)