BANYUASIN,SUMSEL JARRAKPOS.COM. – Kondisi memprihatinkan terjadi di SDN 37 Banyuasin III, Desa Sidang Emas. Alih-alih melakukan penanganan profesional, PLT Kepala Sekolah Khairul Daud, S.Pd justru memilih cara tak lazim dengan menjebol plafon ruang kelas demi mengusir ribuan kelelawar yang telah bersarang selama bertahun-tahun.
Peristiwa ini mencuat setelah sebuah video diunggah ke akun YouTube dan menjadi perbincangan publik, Selasa (13/1/2026).
Dalam video tersebut, terlihat kondisi ruang belajar yang kotor, dipenuhi kotoran kelelawar dengan bau menyengat yang diduga sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.
“Sudah lebih dari tiga tahun kelelawar ini berada di ruang kelas,” ujar Khairul Daud dalam video tersebut.
Ironisnya, alih-alih berkoordinasi dengan dinas terkait atau memanfaatkan anggaran perawatan sekolah, pihak sekolah justru mengambil langkah darurat yang dinilai membahayakan keselamatan siswa dan guru.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Khairul membenarkan tindakan tersebut.
“Iya benar pak, kami sesama tenaga pengajar berinisiatif menjebol beberapa bagian plafon ruang kelas,” ungkapnya.
Ia mengaku sudah mencoba berbagai cara, namun mengaku merasa sungkan dan ragu untuk mengambil langkah lebih jauh.
“Sudah berbagai cara dicoba, tapi tidak berhasil. Saya juga sudah merasa sungkan mengatasi persoalan ini,” tambahnya.
Sikap tersebut justru menuai sorotan. Sejumlah sumber menilai PLT Kepsek diduga lalai dalam memperhatikan lingkungan sekolah dan tidak optimal dalam menjalankan fungsi pengelolaan.
“Sekolah itu setiap tahun menerima Dana BOS. Kalau sampai tiga tahun dibiarkan, ini patut dipertanyakan. Apakah PLT Kepsek paham cara mengelola dan merealisasikan anggaran?” ujar salah satu narasumber.
Menurutnya, dampak dari pembiaran ini sangat merugikan siswa dan tenaga pengajar, mulai dari gangguan kesehatan akibat bau kotoran kelelawar hingga suara bising yang mengganggu proses belajar mengajar.
Publik pun mendesak agar PLT Kepsek SDN 37 Banyuasin segera mengambil langkah tegas dan profesional, bukan sekadar mengusir kelelawar secara sporadis. Penanganan dinilai harus memperhatikan aspek keselamatan bangunan, kesehatan lingkungan, serta transparansi penggunaan anggaran sekolah.
Jika dibiarkan berlarut, kondisi ini dikhawatirkan bukan hanya mencoreng wajah dunia pendidikan di Banyuasin, tetapi juga membahayakan keselamatan generasi penerus yang setiap hari belajar di dalamnya.(WT)














