Daerah

Tumpal Simaremare Tutup Usia, Sumsel Kehilangan Pejuang Reformasi 98

89
×

Tumpal Simaremare Tutup Usia, Sumsel Kehilangan Pejuang Reformasi 98

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS— Sumatera Selatan berduka. Tumpal Simaremare bin Jautar Simare-mare, pejuang Reformasi 1998 yang dikenal konsisten membela demokrasi dan kepentingan rakyat, tutup usia pada Minggu sore, 21 Desember 2025, pukul 16.50 WIB di Palembang.

Kepergian almarhum meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jejaring aktivis, gerakan rakyat, dan masyarakat sipil di Sumsel.

Sejak kabar wafatnya menyebar, rumah duka di Jalan Ali Gatmir, Lorong Tapak Ning, Nomor 362, Kelurahan 10 Ilir, Palembang, dipadati pelayat.

Wajah-wajah lama perjuangan berdatangan, membawa kenangan tentang keberanian, keteguhan sikap, dan suara lantang almarhum dalam membela keadilan.

Sejumlah tokoh dan sahabat lama tampak hadir melayat ke rumah duka. Di antaranya Gubernur Periode 2003-2008, Syarial Oesman, Wakil Ketua DPRD Pali, Firdaus Hasbullah, mantan Calon Wali Kota Palembang sekaligus Ketua Umum DPP Gencar Indonesia, Charma Afrianto, mantan Anggota KPU Provinsi Sumsel, Rudianto Pangaribuan,

Kiki Revolt, Sazili atau Jack, Syafran Syarofi, Bagoes Eddy Gunawan, Ade Indra Chaniago, Ing Suardi alias Cakuk, Eka Syahruddin, Ki Moes serta sejumlah nama lain yang pernah berjuang bersama almarhum dalam lintasan sejarah gerakan mahasiswa, mahasiswa, tokoh pergerakan dan rakyat.

Almarhum dikenal sebagai bagian dari generasi Reformasi 98 yang tetap setia pada jalan perjuangan hingga akhir hayatnya.

Di tengah perubahan zaman dan godaan kompromi, Tumpal Simaremare memilih tetap berdiri di barisan rakyat, menjaga nurani perjuangan agar tidak padam.

Ketua Umum DPP Gerakan Cinta Rakyat (GENCAR) Indonesia, Charma Afrianto, SE, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian sosok yang selama ini menjadi rujukan moral dalam gerakan rakyat.

“Sumatera Selatan kehilangan pejuang Reformasi yang tak pernah lelah membela rakyat. Almarhum adalah suara kebenaran.

Ia mungkin tak selalu berada di depan panggung, tetapi selalu hadir saat rakyat membutuhkan keberanian,” ujar Charma Afrianto, Minggu (21/12/2025) malam.

Menurut Charma, almarhum merupakan figur yang konsisten menjaga nilai-nilai Reformasi 98, kejujuran, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat kecil baik dalam gerakan sosial, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.

“Beliau tidak pernah memperdagangkan perjuangan. Bagi almarhum, demokrasi adalah kerja panjang dan kesetiaan pada nurani,” tambahnya.

Selain dikenal sebagai aktivis Reformasi ’98, Tumpal Simaremare juga aktif dalam berbagai gerakan rakyat dan organisasi sosial.

Ia dihormati lintas generasi karena keteguhan prinsipnya, sikapnya yang lugas, serta keberaniannya menyuarakan kebenaran meski berada dalam tekanan.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Zaitun, serta tiga orang anak. Rencananya, almarhum akan dimakamkan pada Senin, 22 Desember 2025, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebun Bunga, Palembang.

Kepergian Tumpal Simaremare menjadi pengingat bahwa perjuangan Reformasi belum selesai.

Sumatera Selatan kehilangan satu penjaga nurani, namun nilai dan keteladanan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam ingatan dan langkah mereka yang masih setia berjalan di jalan perjuangan.

Selamat jalan, pejuang Reformasi. Jejakmu tak akan dilupakan. ***