PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS — Sosok Sahilin kembali dihadirkan ke ruang publik, bukan melalui panggung pertunjukan, melainkan lewat halaman buku. Maestro Tembang Batanghari Sembilan itu dibedah dalam sebuah diskusi di Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, Sabtu (2/5/2026).
Melalui buku “Sahilin dan Karya Musiknya: Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan” karya Feri Firmansyah, Irfan Kurniawan, M. Nasir, dan Hasan, jejak Sahilin ditelusuri bukan sekadar sebagai perjalanan hidup, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.
Bedah buku ini mempertemukan beragam kalangan, mulai dari akademisi, seniman, hingga mahasiswa.
Diskusi yang berlangsung tidak hanya bernuansa mengenang, tetapi juga menempatkan Sahilin sebagai figur penting penjaga sekaligus penggerak tradisi.

“Ini bukan hanya biografi. Kami melihat Sahilin sebagai pelestari, inovator, dan inspirator,” ujar salah satu penulis, Feri Firmansyah.
Tiga peran tersebut mencerminkan posisi Sahilin dalam Tembang Batanghari Sembilan.
Ia menjaga bentuk dan nilai yang diwariskan, sekaligus membuka ruang bagi perkembangan tanpa tercerabut dari akar budaya.
Namun, di balik besarnya pengaruh itu, tersimpan ironi: tidak semua jejak Sahilin terdokumentasi dengan baik.
Bahkan, penampilan terakhirnya tidak memiliki rekaman video maupun arsip digital.
Kenangan atas momen tersebut kini hanya bertahan melalui cerita keluarga, rekan duet, dan para penonton yang pernah menyaksikannya secara langsung.
Di sisi lain, kiprah Sahilin pernah menembus panggung internasional. Pada 1994, ia bersama Siti Rohmah direkam oleh etnomusikolog asal Amerika Serikat, Philip Yampolsky.

Rekaman tersebut kemudian masuk dalam album Indonesian Guitars, menjadi salah satu bukti pengakuan global terhadap Tembang Batanghari Sembilan.
Sahilin dikenal selektif dalam hal dokumentasi. Ia membatasi perekaman pertunjukan karena memandang musik sebagai peristiwa hidup yang hadir dalam momen, bukan sekadar objek arsip.
Dalam forum itu, terungkap pula asal-usul gelar “maestro” yang disematkan kepadanya. Gelar yang kemudian diberikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada 2004 tersebut berangkat dari pengakuan komunitas seni.
Anwar Putra Bayu dari Asosiasi Tradisi Lisan Sumatera Selatan menjadi pihak yang pertama mengusulkan gelar tersebut sebuah penghargaan yang lahir dari kedekatan dan pemahaman atas perjalanan panjang seorang seniman.
Bedah buku ini dihadiri mahasiswa, praktisi musik, dan seniman. Diskusi berlangsung terbuka, menegaskan bahwa Tembang Batanghari Sembilan bukan sekadar warisan, tetapi tradisi yang terus hidup melalui ingatan kolektif dan praktik budaya.
Melalui buku ini, para penulis berupaya memperpanjang jejak Sahilin dari panggung pertunjukan hingga halaman buku agar tetap hidup dalam ingatan publik. (*)













