Budaya & Pariwisata

Lima Hari yang Menggetarkan Palembang, Sejarah Turun ke Jalan dan Dijaga Warga

9
×

Lima Hari yang Menggetarkan Palembang, Sejarah Turun ke Jalan dan Dijaga Warga

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS — Tidak semua kota memberi ruang bagi sejarah untuk hidup di jalanan. Palembang memilih sebaliknya.

Januari 2026, untuk keempat kalinya, peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam (P5H5M) digelar bukan sebagai seremoni elitis, melainkan gerakan kolektif warga.

Bertempat di Lawang Borotan, Jalan Bari, sejarah tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan, dirawat, dan dijaga bersama.

P5H5M menegaskan satu pesan: sejarah Palembang bukan milik arsip, melainkan milik rakyatnya.

Dimulai dari Doa dan Simbol Budaya

Meski secara historis pertempuran terjadi pada 1 Januari 1947, rangkaian P5H5M 2026 diawali dengan pendekatan reflektif dan kultural.

Pada 1 Januari, ratib saman digelar di Gedung Kesenian Palembang, menandai bahwa perjuangan tak pernah lepas dari kekuatan spiritual.

Sehari berikutnya, masyarakat berkumpul di Simpang Lima DPRD Sumsel untuk pembagian 329 Telok Abang, bertepatan dengan 329 tahun Benteng Kuto Besak—benteng yang bukan sekadar ikon kota, tetapi saksi perlawanan rakyat Palembang.

Sejarah tidak dibekukan dalam monumen. Ia bergerak mengikuti denyut kota.

Tokoh dan Komunitas Penjaga Ingatan Kolektif

Peringatan P5H5M di Lawang Borotan dihadiri langsung oleh Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV, Ketua Dewan Kesenian Palembang M. Nasir, Ketua LVRI Sumsel Ramses, Ketua Tim 11, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Turut hadir Ketua Pelaksana P5H5M Vebri Al Lintani, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sulaiman Amin, Kepala Dinas Pendidikan M. Affan Prapanca, sejarawan Kemas Ari Panji, budayawan dan seniman Palembang, hingga konten kreator Mang Dayat.

Dari unsur komunitas, tampak keterlibatan aktif Komunitas Jeep Palembang, komunitas sepeda ontel, komunitas seni pertunjukan, serta pelaku UMKM. Dukungan juga datang dari pelaku usaha lokal, salah satunya Bakso Granat Mas Azis (BGMA) melalui Abdul Azis, yang membantu kebutuhan logistik dan panitia.

P5H5M menjadi bukti bahwa sejarah ini dijaga langsung oleh warganya sendiri.

Ketika Seni Menjadi Bahasa Perlawanan

Peringatan tidak disampaikan lewat pidato panjang semata. Sejarah diterjemahkan ke dalam seni, gerak, dan tubuh.

Pawai digelar dengan rute yang sama seperti tahun sebelumnya. Deretan sepeda ontel diikuti mobil jeep klasik menyita perhatian warga.

Menariknya, jeep yang ditumpangi Wali Kota Palembang sempat berganti sopir—dari Ketua Jeep Palembang Iwan Darmawan, lalu disopiri langsung oleh Ratu Dewa hingga finis di Lawang Borotan.

Pameran foto dan benda antik perjuangan mengajak pengunjung menatap masa lalu secara visual.

Teatrikal dan pantomim dari Sanggar Blok E Art asuhan Salwa Pratiwi dan Palembang Pantomim asuhan Wak Dollah menghadirkan suasana perang lewat ekspresi.

Atraksi kuntau, bela diri khas Palembang, tampil sebagai simbol ketahanan budaya, sementara korp musik Dinas Kebudayaan mengalunkan lagu-lagu kebangsaan.

Narasi perang dibacakan di sela acara, menghadirkan kembali memori kolektif saat Palembang berdiri melawan penjajahan.

Nama Kapten A Rivai kembali disebut—bukan sebagai mitos, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan selalu memiliki harga.

Swadaya, Bukan Sekadar Anggaran

P5H5M tidak ditopang anggaran besar negara. Ia tumbuh dari swadaya komunitas.

Ketua Pelaksana Vebri Al Lintani menyebutkan, pelaksanaan tahun pertama hanya mengandalkan belasan juta rupiah.

Tahun berikutnya meningkat menjadi Rp22 juta, dan pada 2024 mendekati Rp30 juta, di luar bantuan non-tunai seperti konsumsi, seragam panitia, tenaga relawan, hingga ide kreatif.

Lebih dari 50 komunitas terlibat aktif. Bukan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran: sejarah ini milik bersama.

Menantang Pinggiran Narasi Sejarah Nasional

Selama ini, narasi sejarah nasional lebih sering menempatkan Bandung Lautan Api, 10 November Surabaya, atau Palagan Ambarawa di pusat cerita. Palembang kerap berada di pinggir.

Melalui P5H5M, posisi itu mulai ditantang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan bahwa Pertempuran Lima Hari Lima Malam memiliki bobot sejarah setara dan layak diangkat ke tingkat nasional, bahkan internasional.

Sementara Sultan SMB IV mengingatkan pentingnya menghadirkan sejarah yang hidup, dekat, dan relevan bagi generasi muda.

P5H5M tidak lagi sekadar peringatan tahunan. Ia diarahkan menjadi identitas kota dan potensi wisata sejarah berbasis komunitas.

Hak Palembang atas Sejarahnya

Pertempuran Lima Hari Lima Malam bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah cermin keberanian, persatuan, dan daya hidup Palembang.

Ketika sejarah dijaga komunitas, ketika ingatan dirawat bersama, Palembang tidak sedang bernostalgia.

Ia sedang menegaskan haknya untuk diingat dalam sejarah Indonesia.

Dan dari lima hari pertempuran itu, gema perlawanan terus hidup—di jalan, di panggung seni, dan di kesadaran warganya. (MN)