Berita

Grand Final Duta Anak Sumsel 2025 Menuai Kritik, Sistem Penilaian Dinilai Tak Transparan

12
Oplus_131072

 

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, – Ajang Grand Final Duta Anak Sumatera Selatan 2025 yang digelar di Ballroom The Zuri Hotel Palembang, Sabtu (30/8/2025), menjadi sorotan publik. Acara yang semestinya menjadi panggung inspiratif bagi generasi muda justru menuai sejumlah kritik terkait transparansi proses penilaian dan penyelenggaraan.

Acara bergengsi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Key Giffary, Putri Anak Indonesia Pariwisata, yang dipercaya sebagai salah satu dewan juri. Ajang ini diikuti finalis dari berbagai daerah di Sumatera Selatan dengan misi menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan jiwa kepemimpinan anak.

Salah satu finalis, Annisa Rahma Hidayah (005) dari SMP Negeri 1 Palembang, berhasil meraih predikat Duta Anak Pendidikan Sumatera Selatan 2025. Kepada wartawan, Annisa menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

“Saya sangat berterima kasih karena telah diberikan kesempatan dan mendapatkan predikat Duta Anak Pendidikan Sumatera Selatan 2025. Harapan saya semoga bisa menginspirasi serta menjadi role model bagi anak-anak di Sumatera Selatan,” kata Annisa. Minggu (31/8/2025).

Kritik Orang Tua

Namun di balik prestasi yang diraih putrinya, Fenti Sukarti, ibu dari Annisa, justru menyampaikan kritik terhadap jalannya pemilihan. Menurutnya, terdapat sejumlah kejanggalan sejak awal rangkaian acara.

Ia menyoroti keputusan penyelenggara yang menambah jumlah finalis menjadi Top 7 dengan alasan adanya salah satu peserta yang nilainya unggul. “Hal ini seolah-olah menunjukkan pemenang sudah ditentukan sejak awal, padahal grand final baru dilaksanakan keesokan harinya,” ujarnya.

Fenti juga mengungkapkan adanya keluhan dari beberapa finalis terkait kategori penghargaan yang dinilai tidak sesuai. “Ada anak yang merasa tidak layak menerima kategori yang diberikan, bahkan terlihat tidak nyaman saat menerima selempang penghargaan. Saya mendengar banyak keluhan serupa dari orang tua peserta lainnya,” tambahnya.

Menurut Fenti, penggunaan sistem voting dalam menentukan finalis juga dianggap mencederai esensi ajang pencarian bakat anak. “Banyak anak-anak berbakat tetapi kalah karena keterbatasan jumlah vote. Padahal yang seharusnya dinilai adalah kemampuan, bukan popularitas,” tegasnya.

Harapan ke Depan

Meski mengaku kecewa dengan sistem penilaian, Fenti tetap menyatakan kebanggaannya terhadap capaian putrinya. Ia berharap ajang serupa di masa depan dapat lebih transparan, adil, dan benar-benar menjadi wadah pembinaan anak-anak berbakat di Sumatera Selatan.

“Ajang ini membawa nama daerah dan provinsi, karena itu seleksi harus benar-benar objektif. Banyak anak Sumatera Selatan yang memiliki potensi besar, dan mereka membutuhkan wadah yang tepat untuk berkembang. Saya berharap pemilihan seperti Duta Anak Sumsel bisa dilakukan lebih profesional dan sesuai kategori,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara Duta Anak Sumatera Selatan 2025 belum memberikan keterangan resmi terkait kritik sejumlah orang tua finalis.(WNA)

 

Exit mobile version