AdvertorialBanyuasinBeritaNasional

Wabup Banyuasin Ir. Netta Indian Buka Seminar Jurnalisme Cerdas: Tegaskan AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Integritas

56
×

Wabup Banyuasin Ir. Netta Indian Buka Seminar Jurnalisme Cerdas: Tegaskan AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Integritas

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

BANYUASIN,SUMSEL JARRAKPOS.COM – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin tak terpisahkan dari dunia jurnalistik. Namun, di tengah kemudahan teknologi menghasilkan teks, gambar hingga mengolah data, satu hal tak boleh ikut tergantikan: integritas dan tanggung jawab wartawan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Workshop Jurnalisme bertajuk “Jurnalisme Cerdas: AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Integritas” yang digelar di Auditorium Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Banyuasin, Ir. Netta Indian, S.P., M.M., tersebut diikuti ratusan jurnalis, mahasiswa komunikasi dan praktisi humas se-Kabupaten Banyuasin.

Seminar ini menjadi momentum penting bagi insan pers di tengah perubahan besar industri media. AI kini mampu membantu pekerjaan jurnalistik, mulai dari transkripsi wawancara, pengolahan data, hingga penyuntingan naskah. Namun, teknologi juga membawa ancaman baru berupa disinformasi, manipulasi visual, hingga deepfake yang semakin sulit dibedakan dari informasi asli.

Wakil Bupati Banyuasin, Netta Indian, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuasin mendukung pemanfaatan teknologi dalam dunia pers, tetapi penggunaannya harus tetap berpijak pada etika jurnalistik.

“Kita berada di tahun 2026, di mana algoritma dan generative AI bukan lagi hal baru, melainkan kebutuhan. Saya mengapresiasi inisiatif ini. Pemerintah Kabupaten Banyuasin ingin melihat wartawan kita tidak hanya cepat dalam memberitakan, tetapi juga cerdas dalam memverifikasi,” ujarnya.

Menurut Netta, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir, naluri jurnalistik maupun tanggung jawab moral seorang wartawan.

“Teknologi harus menjadi mitra untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan peran nurani dan integritas seorang jurnalis,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kecepatan dalam menyajikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi. Terlebih, di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan media yang mampu memilah fakta dari manipulasi.

“Wartawan harus menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks dengan fakta yang terverifikasi, bukan sekadar berita yang dihasilkan mesin tanpa validasi manusia,” katanya.
Pesannya jelas: cepat boleh, tetapi benar adalah kewajiban.

Sementara itu, Ketua PWI Banyuasin, Wardoyo, S.I.Kom, mengatakan seminar tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadikan AI sebagai ancaman bagi wartawan. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kerja jurnalistik.

Menurutnya, AI dapat membantu wartawan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan teknis dan repetitif sehingga waktu yang tersedia dapat lebih banyak digunakan untuk melakukan pendalaman informasi dan investigasi.

“Kami ingin mengubah mindset bahwa AI adalah ancaman. Justru, dengan AI, wartawan bisa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pendalaman liputan dan investigasi, karena tugas-tugas repetitif bisa dibantu oleh mesin,” jelas Wardoyo.

Ia menegaskan, penggunaan AI tetap harus berada dalam koridor kode etik jurnalistik. Wartawan tidak boleh sekadar menjadi operator teknologi yang menerima mentah-mentah informasi dari mesin.

AI boleh membantu mencari, mengolah dan merapikan informasi. Namun, verifikasi, konfirmasi, penilaian kepentingan publik dan keputusan akhir tetap berada di tangan wartawan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel serta demonstrasi penggunaan sejumlah tools AI untuk mendukung efisiensi kerja jurnalistik.

Seminar ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah era ketika mesin semakin pintar, wartawan justru dituntut semakin kritis, teliti dan berintegritas.

Sebab, dalam jurnalistik, kecanggihan teknologi mungkin mampu menghasilkan sebuah tulisan dalam hitungan detik. Tetapi kebenaran tetap membutuhkan manusia untuk mencari, memeriksa dan mempertanggungjawabkannya.(WT)