Berita

Bukan Provokator? Empit Ungkap Sikap Ketua ADO Sumsel Saat Bentrokan Mapolda

20
×

Bukan Provokator? Empit Ungkap Sikap Ketua ADO Sumsel Saat Bentrokan Mapolda

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Nama Ketua Asosiasi Driver Online Sumatera Selatan (ADO Sumsel), M. Asrul Indrawan, terseret dalam isu yang mengaitkannya dengan dugaan provokasi bentrokan di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Mapolda Sumsel). Menanggapi tudingan tersebut, Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo, Fitriansyah Sutrisno, yang akrab disapa Empit, angkat bicara dan memberikan klarifikasi.

Empit dengan tegas membantah tudingan yang menyebut Asrul sebagai provokator. Menurutnya, narasi yang berkembang di tengah masyarakat tersebut tidak sesuai dengan apa yang ia ketahui mengenai sosok Asrul maupun sikap yang ditunjukkannya saat berada di sekitar lokasi kejadian.

Dalam klarifikasi resminya, Minggu (18/10/2026), Empit menilai Asrul merupakan sosok yang selama ini dikenal mengedepankan nilai kemanusiaan, menjaga kondusivitas, serta mengutamakan penyelesaian persoalan melalui jalur damai.

“Ini kabar yang tidak berdasar. Kami mengenal Asrul, dia bukan sosok provokator,” tegas Empit.

Empit: Asrul Dikenal Mengayomi, Bukan Memprovokasi

Empit mengatakan, di kalangan pengemudi transportasi daring maupun aktivis di Palembang, Asrul dikenal sebagai figur yang mengayomi dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial. Karena itu, ia menyayangkan munculnya tudingan yang menurutnya berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap Ketua ADO Sumsel tersebut.

Ia mengingatkan, penilaian terhadap seseorang semestinya tidak dibangun hanya berdasarkan potongan informasi, narasi sepihak, atau opini yang belum teruji kebenarannya.

Terlebih, peristiwa bentrokan di sekitar Mapolda Sumsel merupakan persoalan yang perlu dilihat secara utuh, mulai dari kronologi kejadian, peran masing-masing pihak, hingga bukti dan keterangan saksi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan ada penggiringan opini. Kita serahkan pada bukti visual dan keterangan saksi yang objektif. ADO Sumsel terbuka dan kooperatif,” ujarnya.

Kehadiran ADO Disebut untuk Agenda Kemanusiaan

Lebih lanjut, Empit menjelaskan bahwa kehadiran Asrul bersama pihak ADO di sekitar Mapolda Sumsel ketika insiden terjadi, menurut keterangannya, bukan untuk memicu keributan, melainkan berkaitan dengan agenda kemanusiaan.

Ia bahkan menyebut Asrul justru meminta anggotanya menahan diri, tidak mudah terpancing situasi, serta menjauh dari potensi konflik.

Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari klarifikasi Empit terhadap tudingan yang beredar. Menurutnya, tindakan mengendalikan anggota dan menghindari benturan tidak sejalan dengan gambaran seseorang yang sengaja datang untuk memprovokasi keributan.

“Saat kejadian, Asrul hadir dengan agenda kemanusiaan. Justru dia meminta anggotanya menahan diri, tidak terprovokasi, dan menjauh dari konflik. Sangat bertolak belakang dengan tudingan sebagai provokator,” jelasnya.

Meski demikian, penentuan peran setiap pihak dalam insiden tersebut tetap perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang dapat diverifikasi, bukan semata-mata penilaian maupun pembelaan dari pihak tertentu.

Masyarakat Diminta Tidak Terjebak Perang Opini

Empit juga mengajak masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama ketika informasi tersebut menyangkut nama baik seseorang dan berpotensi memperkeruh situasi.

Menurutnya, penyebaran tudingan tanpa dasar yang jelas dapat memicu kesalahpahaman, memperluas konflik, serta mengalihkan perhatian dari persoalan utama yang semestinya diselesaikan secara objektif.

Ia meminta semua pihak memberikan ruang bagi proses klarifikasi dan penelusuran fakta. Bukti visual, keterangan saksi, serta informasi yang dapat diuji kebenarannya harus menjadi dasar dalam menilai peristiwa tersebut.

Empit menegaskan, pihaknya tidak menginginkan polemik yang berkembang justru memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat Palembang. Ia berharap semua pihak dapat menahan diri, tidak saling menyudutkan, dan mengedepankan penyelesaian yang adil.

“Kami berharap masyarakat tidak mudah termakan framing negatif. Biarkan fakta yang berbicara. Jangan sampai opini yang belum terbukti justru merugikan seseorang,” tegasnya.

Klarifikasi Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Kondusivitas

Polemik yang menyeret nama Ketua ADO Sumsel tersebut menjadi pengingat bahwa setiap insiden di ruang publik membutuhkan penjelasan yang utuh dan berimbang. Di tengah derasnya arus informasi, klarifikasi dari pihak terkait perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencari kebenaran, bukan sebagai pengganti proses pembuktian.

Empit berharap polemik ini tidak berkembang menjadi saling tuding yang berkepanjangan. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan memberi kesempatan kepada pihak berwenang untuk menelusuri fakta apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum.

Bagi Empit, menjaga kondusivitas dan mengedepankan kemanusiaan harus menjadi kepentingan bersama. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang disebut dalam suatu peristiwa berhak mendapatkan penilaian secara adil berdasarkan fakta, bukan sekadar opini yang berkembang.

Dengan klarifikasi tersebut, Empit berharap masyarakat dapat melihat persoalan secara lebih objektif dan tidak terburu-buru menyimpulkan keterlibatan seseorang sebelum bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan benar-benar terungkap. (***)