PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Upaya pencegahan HIV/AIDS di Sumatera Selatan tak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Edukasi sejak dini, perluasan akses informasi, serta penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV menjadi pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk organisasi keagamaan.
Atas dasar itu, Yayasan Intan Maharani (YIM) menjajaki kolaborasi dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Sumatera Selatan. Keduanya membidik lingkungan keluarga, pesantren, dan madrasah sebagai ruang untuk memperluas edukasi kesehatan, khususnya terkait HIV/AIDS dan persoalan kesehatan sosial lainnya.
Penjajakan kerja sama tersebut berlangsung melalui audiensi di Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumsel, Jalan Mayor Salim Batubara, Palembang, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ketua LKNU Sumsel Reza Fahlevi mengatakan, kolaborasi dengan YIM merupakan langkah yang telah lama dinantikan. Menurut dia, persoalan kesehatan masyarakat tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja, terlebih ketika berkaitan dengan isu sosial yang kompleks.
“LKNU ingin berkolaborasi dengan banyak pihak terkait masalah kesehatan dan sosial masyarakat,” kata Reza.
Ia menilai, jaringan NU yang menjangkau berbagai daerah di Sumatera Selatan menjadi modal penting untuk memperluas penyampaian informasi mengenai pencegahan HIV/AIDS. Edukasi, menurut dia, tidak seharusnya berhenti di tingkat provinsi, tetapi perlu diteruskan hingga kabupaten, kota, kecamatan, dan kelurahan.
“NU ini umatnya banyak dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan ini,” ujarnya.
Reza berharap kerja sama tersebut dapat berjalan berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa LKNU Sumsel tengah mempersiapkan pendirian klinik NU melalui proses rekrutmen dan pengurusan perizinan.
Ia menargetkan klinik tersebut dapat mulai beroperasi pada Desember 2026. Menurut Reza, keberadaan klinik itu nantinya diharapkan menambah akses layanan kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan.
Sasar Keluarga, Pesantren, dan Madrasah
Ketua Yayasan Intan Maharani, Drs. Syahri, M.Si., mengatakan, NU memiliki basis umat yang besar sehingga berpotensi menjadi mitra strategis dalam menyampaikan pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS.
Syahri menyoroti pentingnya edukasi kepada generasi muda di tengah persoalan HIV/AIDS yang membutuhkan perhatian serius. Ia menilai, pendekatan melalui organisasi keagamaan dapat membantu menyampaikan informasi kesehatan dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Makanya YIM menggandeng NU. Kami bisa bermitra agar pesan-pesan pencegahan dapat disampaikan melalui NU yang memiliki umat dan bisa didistribusikan sampai ke tingkat keluarga,” kata Syahri.
Menurut dia, pendekatan berbasis komunitas menjadi penting agar edukasi tidak hanya berlangsung dalam kegiatan formal, tetapi juga menjangkau lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan keagamaan.
YIM dan LKNU Sumsel pun menjajaki penyusunan modul edukasi HIV/AIDS dengan pendekatan keagamaan. Materi tersebut direncanakan dapat digunakan di lingkungan pesantren serta madrasah tsanawiyah dan aliyah.
Penggunaan bahasa dan pendekatan yang sesuai dengan latar belakang keagamaan diharapkan membuat pesan pencegahan lebih mudah dipahami dan diterima oleh pelajar maupun masyarakat.
Syahri mengatakan, kedua pihak juga telah membicarakan rencana untuk memformalkan kerja sama serta melakukan audiensi bersama ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan.
“Semoga kita bisa membuat modul dengan bahasa dan pesan dari NU yang memiliki latar belakang keagamaan, sehingga nanti bisa menyentuh pesantren dan sekolah madrasah,” ujarnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas jangkauan edukasi HIV/AIDS di Sumatera Selatan. Tantangannya bukan hanya menyampaikan informasi tentang penularan dan pencegahan, melainkan juga membangun pemahaman masyarakat agar orang dengan HIV tidak menghadapi stigma dan diskriminasi ketika mengakses layanan kesehatan maupun menjalani kehidupan sosial. (WNA)














