Berita

Deru Mesin untuk Kemanusiaan: HDCI, TLCI, dan Sriwijaya MC Santuni Anak Yatim

19
×

Deru Mesin untuk Kemanusiaan: HDCI, TLCI, dan Sriwijaya MC Santuni Anak Yatim

Sebarkan artikel ini

 

PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Area Outdoor Liberica Cafe, The Sultan, Palembang, Selasa (24/2/2026), berubah menjadi ruang temu yang tak biasa. Sekitar 300 anggota komunitas otomotif dari (HDCI) Palembang, (TLCI) 22 Palembang, dan memadati lokasi untuk menggelar buka puasa bersama dan bakti sosial.

Deru motor besar dan jejeran kendaraan 4×4 yang terparkir rapi sore itu bukan sekadar simbol hobi dan gaya hidup. Di balik jaket kulit dan bodi kendaraan yang gagah, terselip agenda sosial: menyantuni 50 anak yatim piatu dari Panti Asuhan Romadhon dan Panti Asuhan Kristen Pondok Tirta.

Agenda ini menjadi menarik karena menghadirkan kolaborasi lintas komunitas dan lintas keyakinan dalam satu panggung kebersamaan Ramadan. Anak-anak dari dua panti dengan latar belakang berbeda duduk berdampingan, menjadi tamu kehormatan dalam kegiatan yang digagas para penggiat otomotif tersebut.

Gubernur Sumatera Selatan, , yang hadir langsung, menyebut kegiatan itu sebagai contoh konkret bagaimana komunitas hobi dapat bertransformasi menjadi instrumen sosial.

“Saya bangga melihat wajah-wajah tangguh para rider dan driver kita hari ini. Di balik kendaraan yang gagah, tersimpan kepedulian yang luar biasa. Inilah wajah Sumatera Selatan; kita bersatu tanpa memandang perbedaan untuk membantu sesama,” ujar Herman Deru dalam sambutannya.

Ketua HDCI Palembang, Muhammad AR, menegaskan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang tak hanya bertujuan mempererat silaturahmi internal, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia didampingi Sekretaris Jenderal HDCI Palembang, Tazir.

“Hari ini kami bersama sahabat-sahabat TLCI 22 dan Sriwijaya MC ingin berbagi kebahagiaan. Persaudaraan tanpa batas itu nyata. Bukan soal seberapa mahal kendaraan kita, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan,” katanya.

Dari kubu TLCI 22 Palembang, pesan serupa disampaikan Ketua Heri Walet melalui perwakilannya, Jaya. Menurut dia, kendaraan bagi komunitasnya bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Kolaborasi ini membuktikan bahwa ketika hobi bertemu dengan niat tulus, dampaknya bisa lebih luas. Kami ingin kekompakan lintas komunitas ini terus terjaga, bukan hanya di jalan, tetapi juga dalam aksi sosial,” ujar Jaya.

Acara ditutup dengan penyerahan santunan kepada 50 anak yatim yang diserahkan langsung oleh Herman Deru didampingi para perwakilan komunitas. Santunan dan bingkisan diberikan menjelang azan Magrib berkumandang, menandai waktu berbuka puasa.

Di tengah sorotan publik yang kerap menilai komunitas otomotif identik dengan eksklusivitas, kegiatan ini menjadi penegas bahwa ruang-ruang hobi dapat menjadi simpul solidaritas.

Ramadan sore itu memperlihatkan bahwa solidaritas sosial bisa lahir dari mana saja—bahkan dari deru mesin yang biasanya identik dengan kecepatan dan adrenalin. (WNA)