PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Sumatera Selatan mendorong penguatan transportasi massal dan integrasi jaringan lalu lintas sebagai bagian dari strategi menghadapi pertumbuhan mobilitas masyarakat. Transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik juga dinilai membutuhkan kesiapan ekosistem, bukan sekadar pergantian jenis kendaraan.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Strategis Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dalam Mewujudkan Transportasi Massal Terintegrasi, Berkelanjutan, dan Efisiensi Transisi Kendaraan Fosil ke Mobil Listrik di Sumsel” di Hotel Swarna Dwipa Palembang, Rabu, 30 September 2026.
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan pelantikan dan pengukuhan Pengurus MTI Sumsel periode 2026–2029.
Ketua panitia, Ir. Rhaptyalyani, ST., M.Eng., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., mengatakan pembangunan transportasi Sumatera Selatan tidak dapat dilakukan secara parsial. Integrasi antarmoda dan kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan untuk menjawab persoalan mobilitas yang semakin kompleks.
“Pembangunan transportasi membutuhkan keterhubungan antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, operator, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Rhaptyalyani.
Menurut dia, FGD tersebut menjadi ruang untuk membahas integrasi antarmoda, konektivitas antarwilayah, kebijakan transportasi, penguatan infrastruktur serta perkembangan teknologi transportasi.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.
“Kami berharap seluruh kegiatan hari ini dapat menghasilkan gagasan, jejaring, komitmen serta rekomendasi yang konkret untuk mendukung pembangunan transportasi Sumatera Selatan,” ujarnya.
FGD dihadiri unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah kabupaten dan kota, Dinas Perhubungan, akademisi, praktisi, peneliti, dunia usaha, operator transportasi, asosiasi, komunitas, BUMN dan BUMD serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Rencana Induk LLAJ Jadi Acuan
Staf Ahli Gubernur Sumatera Selatan Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Deva Octavianus Coriza, mengatakan Pemprov Sumsel menyambut baik pengukuhan kepengurusan MTI Sumsel. Menurut dia, MTI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan masukan berbasis kajian terhadap kebijakan transportasi.
“Momentum ini bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi merupakan awal dari sebuah amanah dan tanggung jawab untuk turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan transportasi di Sumatera Selatan,” kata Deva.
Dia mengatakan persoalan transportasi semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, meningkatnya mobilitas, pertumbuhan kendaraan bermotor dan kebutuhan konektivitas antarwilayah.
Pada saat yang sama, tuntutan terhadap transportasi yang ramah lingkungan semakin besar.
Deva menilai rencana induk jaringan LLAJ memiliki posisi penting karena dapat menjadi acuan bersama dalam membangun jaringan transportasi yang saling terhubung. Jaringan jalan, angkutan umum, terminal, simpul transportasi, fasilitas pejalan kaki dan berbagai moda transportasi perlu dirancang dalam satu sistem.
Sumatera Selatan memiliki karakteristik wilayah yang beragam. Kawasan perkotaan memiliki tingkat mobilitas tinggi, sementara kawasan industri, pusat ekonomi, permukiman dan wilayah antarkabupaten/kota membutuhkan konektivitas yang semakin baik.
“Perencanaan jaringan transportasi harus mampu mengantisipasi perkembangan wilayah dan perubahan pola mobilitas masyarakat,” ujarnya.
Transportasi Massal dan Kendaraan Listrik
Penguatan transportasi massal menjadi salah satu perhatian dalam FGD. Deva mengatakan masyarakat harus memiliki pilihan mobilitas yang layak sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat ditekan.
Menurut dia, transportasi umum harus aman, nyaman, terjangkau, mudah diakses dan memiliki tingkat pelayanan yang baik. Integrasi jadwal, simpul transportasi dan teknologi juga perlu diperkuat.
Selain transportasi massal, transisi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik menjadi isu lain yang dibahas.
Deva mengatakan elektrifikasi transportasi membutuhkan kesiapan yang lebih luas dibandingkan sekadar mengganti kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik.
“Transisi dari kendaraan berbasis fosil menuju kendaraan listrik tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kendaraan. Kita membutuhkan ekosistem yang mencakup kesiapan infrastruktur, jaringan pengisian daya, regulasi, pembiayaan, pengelolaan limbah baterai serta manajemen energi,” katanya.
Karena itu, MTI Sumsel diharapkan dapat memberikan perspektif akademis dan teknis terhadap kebijakan transportasi daerah. Pemprov Sumsel juga membuka ruang dialog dengan berbagai pihak untuk memperkuat kebijakan transportasi berbasis data dan kebutuhan masyarakat.
“Ke depan kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis pembangunan infrastruktur, tetapi juga berbasis kebutuhan masyarakat, pemanfaatan data dan integrasi antarmoda,” ujar Deva.
Melalui FGD dan pengukuhan kepengurusan periode 2026–2029, MTI Sumsel menempatkan integrasi transportasi, penguatan angkutan massal dan kesiapan ekosistem kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda pembangunan transportasi daerah. (WNA)














