PALI, SUMSELJARRAKPOS– Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten PALI, edukasi pengelolaan sampah kini menyasar sekolah-sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemkab PALI dalam membangun karakter generasi muda yang sadar dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
Sekolah dinilai sebagai ruang strategis untuk membentuk kebiasaan baik sejak dini, terutama dalam hal pengelolaan sampah.
Kepala DLH PALI, Dr. Aryansyah, MT, menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak sebatas sosialisasi, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
Para siswa diajak memilah sampah, mengenal jenis-jenis sampah organik dan anorganik, serta memahami dampaknya terhadap lingkungan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu, tetapi juga terbiasa. Edukasi ini kami kemas secara interaktif agar mereka senang belajar sekaligus paham pentingnya menjaga kebersihan,” ujar Aryansyah dalam keterangannya, Minggu (14/2/2026)
Melalui program Konvensi Gerakan ASRI (Aksi Sekolah Ramah dan Indah), DLH PALI memperkenalkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga pembiasaan budaya bersih di lingkungan sekolah.
“Kami tidak ingin ini sekadar kegiatan seremonial. Anak-anak harus praktik langsung, memahami, lalu membiasakan diri menjaga kebersihan,” tegasnya.
Selain itu, DLH PALI juga berencana mendorong pembentukan bank sampah sekolah sebagai sarana pembelajaran sekaligus pemberdayaan.
Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas serta rasa tanggung jawab siswa dalam mengelola sampah secara mandiri.
Menurut Aryansyah, perubahan perilaku terhadap persoalan sampah harus dimulai dari dunia pendidikan.
“Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Pendidikan adalah kunci perubahan perilaku,” katanya.
Ia berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat.
“Kalau kesadaran itu tumbuh sejak bangku sekolah, mereka akan menjadi pelopor di rumah dan sekitarnya. Inilah investasi lingkungan jangka panjang yang sedang kita bangun bersama,” pungkasnya.














