PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Di tengah tekanan ekonomi pascapandemi dan ketatnya persaingan industri keuangan, PT BPR Palembang justru mencatat lompatan kinerja yang tak biasa. Pada puncak perayaan HUT ke-10 yang digelar di Hotel Harper Palembang, Jumat (30/1/2026), manajemen mengungkap transformasi bank daerah itu dari kondisi tertekan menjadi salah satu yang terbaik secara nasional.
Direktur Utama PT BPR Palembang, Syafril, S.Sos., C.R.R.D., mengisahkan, saat ia bergabung pada akhir 2019, kondisi bank belum stabil.
Upaya pembenahan yang baru dimulai awal 2020 langsung dihantam pandemi Covid-19 yang membuat ruang gerak perbankan nyaris lumpuh hingga 2022.
“Bank yang kondisinya sudah sehat saja bisa mundur saat pandemi, apalagi yang sedang berbenah. Kami fokus bertahan dulu,” ujarnya.
Memasuki 2023, saat pembatasan ekonomi mereda, BPR Palembang mulai mencatat pertumbuhan. Hasilnya terlihat nyata pada 2024. Dalam pemeringkatan tahunan lembaga independen perbankan nasional, BPR Palembang meraih peringkat pertama BPR milik daerah kategori aset Rp100–250 miliar, dengan skor 99,06 dari nilai sempurna 100. Saat itu aset bank berada di kisaran Rp129 miliar.

Yang lebih mencolok, menurut Syafril, skor 2025 kembali naik menjadi 99,58. Jika hasil final tak berubah, BPR Palembang dipastikan mempertahankan posisi puncak.
“Penilaian itu mencerminkan keseluruhan kinerja keuangan: pertumbuhan aset, kualitas kredit, rentabilitas seperti ROA, hingga efisiensi operasional. Ini bukan satu indikator saja,” katanya.
Di tengah euforia kinerja, BPR Palembang justru mengambil langkah yang tak populer tidak agresif masuk pembiayaan UMKM massal.
Syafril blak-blakan menyebut sektor itu kini penuh tekanan. Program kredit bersubsidi pemerintah seperti KUR membuat bank tanpa subsidi sulit bersaing dari sisi bunga.
Di sisi lain, banyak pelaku UMKM menyisakan riwayat kredit bermasalah.
“Data pengajuan kredit sekarang menunjukkan banyak calon debitur punya catatan macet, termasuk dari pinjaman online.
Kredit bisa jalan kalau ada kemampuan usaha dan kemauan membayar. Kalau salah satu tidak ada, risikonya tinggi,” ujarnya.
Karena itu, BPR Palembang lebih selektif, menggarap segmen konsumtif berpenghasilan tetap, termasuk pembiayaan berbasis tunjangan atau penghasilan non-gaji pokok.
Strategi ini dinilai lebih terukur di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, bank ini justru agresif di sektor yang jarang dilirik BPR literasi dan inklusi keuangan pelajar.
Selama dua tahun terakhir, BPR Palembang mengembangkan produk Simpanan Pelajar dan telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Palembang.
Program ini menyasar siswa SD dan SMP melalui mobil kas keliling ke sekolah-sekolah.
Bank bahkan membuka 10.000 rekening pelajar gratis, dengan setoran awal ditanggung bank, tanpa biaya administrasi.
“Ini investasi jangka panjang. Anak-anak belajar menabung sejak dini, sekaligus membangun kedekatan masyarakat dengan bank daerahnya sendiri,” kata Syafril.
Lawan Pinjol, Perkuat Bank Daerah
Di momen satu dekade berdiri, manajemen juga menyampaikan pesan keras kepada masyarakat untuk menjauhi pinjaman online ilegal dan memanfaatkan layanan perbankan resmi.
“Palembang punya bank sendiri selain Bank Sumsel Babel, yaitu BPR Palembang. Dukungan masyarakat dan pemerintah kota penting agar bank daerah ini makin kuat dan bisa berkontribusi pada ekonomi lokal,” ujarnya.
Menunjukkan satu hal di tengah badai pandemi, tekanan UMKM, dan gempuran fintech, bank kecil pun bisa naik kelas — asal disiplin mengelola risiko dan tahu persis pasar mana yang sanggup mereka tangani. (WNA)














