Budaya & Pariwisata

Pagelaran “Rindu Dua Penyair” Angkat Martabat Puisi di Palembang

22
×

Pagelaran “Rindu Dua Penyair” Angkat Martabat Puisi di Palembang

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS – Dewan Kesenian Palembang (DKP) menggelar pagelaran sastra bertajuk “Rindu Dua Penyair” di Gedung Kesenian Palembang, Jumat (16/1/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pembacaan puisi, tetapi juga ruang diskusi serius tentang posisi dan masa depan puisi di ruang publik.

Dua penyair nasional asal Yogyakarta, Joko Pranoto dan Afnan Malay, dihadirkan sebagai narasumber utama.

Kehadiran keduanya membuka dialog lintas daerah dan generasi bersama komunitas sastra Palembang.

Acara berlangsung hangat dan dihadiri sejumlah penyair Palembang, di antaranya Anto Narasoma, Vebri Alintani, Tarech Rasyid, Rapani Igama, Yosef Fortass, M. Muhaimin, Toton Dai Permana,ah, Ketua Komite Sastra Inug, serta Yan Tuan Kentang dari Komite Seni Rupa.

Tampak pula perwakilan Dinas Pariwisata Palembang melalui Kabid Destinasi Nini, perwakilan Balai Bahasa Sumatera Selatan Fifi, Ketua KKPP M. Riduan, serta akademisi Dr. Fery Kurniawan dari Universitas Bina Darma.

Kehadiran generasi muda memberi warna tersendiri. Pelajar dari SMP Negeri 1 Palembang dan SMAN 6 Palembang duduk berdampingan dengan mahasiswa Universitas PGRI Palembang.

Kehadiran mereka menandai keterbukaan ruang sastra yang tidak lagi eksklusif, tetapi inklusif lintas usia dan latar belakang.

Jajaran pengurus Dewan Kesenian Palembang juga hadir lengkap, di antaranya Sekretaris Fadly Lonardo, Ketua Program Irfan Kurniawan, Ketua Komite Musik Moh, Ketua Komite Teater Hasan, Ketua Komite Sastra Inug, serta Yan Tuan Kentang dari Komite Seni Rupa.

Kehadiran para pengurus ini menegaskan dukungan kelembagaan terhadap penguatan sastra sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan kota.

Pada sesi pembacaan puisi, Joko Pranoto dan Afnan Malay tampil bergantian bersama penyair Palembang. Tema puisi yang dibacakan beragam, mulai dari refleksi personal, kritik sosial, hingga ingatan tentang kota dan manusia.

Apresiasi penonton terlihat dari antusiasme dan tepuk tangan yang mengalir sepanjang acara.

Diskusi menjadi puncak kegiatan. Dalam sesi yang dipandu Ketua Komite Sastra DKP, Inug, Joko Pranoto menyampaikan pandangan kritisnya tentang pengelolaan puisi di ruang publik.

Menurutnya, puisi kerap diposisikan sebagai kegiatan pinggiran dan digelar tanpa konsep yang serius. Padahal, puisi merupakan kerja kreatif yang membutuhkan pengelolaan profesional.

“Puisi sering dianggap cukup digelar gratisan, lesehan, lalu selesai. Padahal, kalau digarap dengan serius, penonton akan menikmati dan menghargainya,” ujar Joko.

Ia menegaskan bahwa profesionalisme tidak selalu identik dengan komersialisasi, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja seni dan martabat penyair.

Sementara itu, Afnan Malay menekankan pentingnya kejujuran proses kreatif dan keberlanjutan ruang intelektual sastra.

Menurutnya, puisi tidak lahir secara instan dan tidak semata-mata untuk kepentingan tampil.

“Puisi lahir dari perenungan panjang. Yang dibutuhkan adalah ruang baca, ruang kritik, dan dialog yang terus hidup,” kata Afnan.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran generasi muda menjadi penanda penting keberlangsungan sastra.

“Selama masih ada anak muda yang mau mendengar puisi, sastra tidak akan mati,” ujarnya.

Melalui pagelaran “Rindu Dua Penyair”, DKP menegaskan komitmennya untuk menjadikan sastra sebagai bagian penting dari kehidupan budaya kota.

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama sekaligus langkah awal menuju pengelolaan puisi yang lebih bermartabat dan berkelanjutan di Palembang. (MN)