PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS – Pembacaan puisi bertema banjir dan longsor Sumatera 2025 oleh penyair Tarech Rasyid menjadi salah satu momen paling kuat dalam konser amal kemanusiaan yang digelar di Kambang Iwak Park, Palembang, Sabtu (27/12/2025).
Puisi tersebut tidak berdiri sendiri sebagai pertunjukan sastra, melainkan hadir menyatu dalam peristiwa seni kolektif yang melibatkan musik, tari, dongeng, hingga aksi melukis langsung di ruang publik.
Di tengah suasana malam taman kota, puisi Tarech menemukan konteksnya yang utuh. Kata-kata yang dilantunkan bukan sekadar ekspresi personal, melainkan menjadi suara kegelisahan bersama atas bencana ekologis yang melanda berbagai wilayah di Sumatera.
Dalam puisinya, Tarech memaknai banjir dan longsor bukan sebagai peristiwa alam semata.
Ia menggambarkannya sebagai “bahasa tubuh bumi” yang terluka akibat penggundulan hutan, eksploitasi berlebihan, dan cara pandang manusia yang menempatkan diri sebagai pusat segalanya.
Metafora yang digunakan tajam, namun disampaikan tanpa teriakan, menjadikannya seperti gugatan moral yang sunyi tetapi sulit dibantah.
Kritik terhadap antroposentrisme pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan menjadi benang merah puisinya.
Dalam kerangka itu, manusia tidak hanya diposisikan sebagai korban bencana, tetapi juga sebagai pihak yang turut bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.
Pada waktu yang bersamaan, di sudut lain Kambang Iwak, pelukis Palembang, Maradona, melakukan aksi melukis secara langsung.
Tanpa panggung khusus, kanvas putih dibentangkan di tanah taman, dengan pencahayaan seadanya dari lampu taman dan pantulan air kolam.
Objek lukisan yang digarap bukan gambaran bencana, melainkan lanskap Kambang Iwak itu sendiri pepohonan, air, siluet manusia, dan suasana malam. Namun justru di situlah irisan maknanya dengan puisi Tarech.
Jika puisi menyuarakan luka bumi, lukisan tersebut merekam ruang empati manusia: tempat solidaritas dibangun, doa dipanjatkan, dan donasi dikumpulkan.
“Melukis langsung di tengah suasana seperti ini membuat emosi publik ikut masuk ke dalam kanvas,” ujar Maradona di sela kegiatan.
Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Muhamad Nasir, menilai lukisan tersebut sebagai arsip visual dari peristiwa sosial.
Menurutnya, ketika puisi dan musik telah selesai dipentaskan, karya rupa akan tetap tinggal sebagai penanda ingatan kolektif atas kepedulian yang pernah tumbuh di ruang publik.
Konser amal ini dibuka oleh Suparman Roman dan dihadiri pembina DKP Singgih Winarto, Cheirman, Kgs M Riduan, Ali Goik, serta Beng Beng. Sejumlah seniman turut tampil, di antaranya Anto Narasoma dan Heri Mastari dalam pembacaan puisi, dongeng kemanusiaan oleh Mas Inug, musik akustik Zulfikri dan Alila Najwa, tari dari Sanggar Kharisma, hingga atraksi atlet Ikatan Olahraga Dansa Indonesia.
Di antara rangkaian penampilan tersebut, puisi Tarech Rasyid kerap dikenang sebagai pusat gugatan ekologis malam itu, sementara lukisan Maradona menjadi saksi visual yang terus berbicara bahkan setelah acara usai.
Melalui kolaborasi lintas seni ini, konser amal Kambang Iwak menegaskan bahwa seni tidak hanya hadir sebagai hiburan. Ia mampu bergerak cepat, bekerja dalam sunyi, dan menjadi bagian nyata dari aksi kemanusiaan menyuarakan kritik, merawat empati, serta menjaga ingatan bersama. (MN)














