PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, — Kepala SMK Negeri 2 Palembang, Suparman, memberikan apresiasi kepada para siswa yang mengharumkan nama sekolah di tingkat nasional. Penghargaan itu diberikan di tengah imbauan sekolah agar siswa tidak terprovokasi isu tawuran yang beredar di media sosial.
Suparman mengatakan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi kesempatan bagi sekolah untuk mendorong siswa menunjukkan prestasi, bukan terlibat aksi yang dapat merusak masa depan mereka.
Menurutnya, SMKN 2 Palembang berhasil meraih peringkat keenam dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional. Prestasi tersebut turut disumbangkan siswa bidang robotik yang tampil di tingkat nasional di Jakarta.
“Alhamdulillah, kita mendapat satu emas, tiga perak dan dua perunggu di tingkat nasional. Kita bisa bersaing dengan daerah-daerah yang memang kuat seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan dan Banten,” kata Suparman.
Selain prestasi LKS, sekolah juga mencatat prestasi di bidang seni dan olahraga. Dalam kejuaraan drumband yang digelar di OPI Mall, SMKN 2 Palembang meraih juara pertama kategori drumband. Sementara kategori marching band diraih SMKN 6 Palembang.
Suparman mengatakan penghargaan dan penyerahan piala tersebut menjadi bagian penting untuk menunjukkan bahwa siswa memiliki banyak ruang positif untuk berprestasi.
Di sisi lain, Suparman menyoroti isu tawuran yang belakangan membuat sebagian orang tua khawatir. Ia menegaskan tidak ingin siswa SMKN 2 Palembang terjebak dalam provokasi yang beredar melalui media sosial.
“Anak-anak kita ini anak baik-baik semua. Jangan sampai kita terhasut provokator. Kita tidak tahu siapa aliansinya, siapa ketuanya. Tetapi di media, hoaksnya selalu besar,” ujarnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa siswa SMKN 2 Palembang akan melakukan penyerangan setelah upacara.
“Jangan sampai seolah-olah kejadian ini anak SMK pagi ini akan menyerang. Enggak mungkin. Anak-anak kita tidak mau menyerang. Justru kita yang menjadi korban karena dihasut,” kata Suparman.
Untuk mencegah terjadinya aksi susulan, sekolah mengarahkan seluruh siswa pulang ke rumah masing-masing setelah mengikuti upacara. Orang tua yang khawatir juga dipersilakan menjemput anak mereka di sekolah.
Suparman meminta siswa tidak nongkrong setelah pulang sekolah. Ia bahkan menegaskan akan mengembalikan siswa kepada orang tua jika kedapatan terlibat dalam aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan.
“Kalau kedapatan nongkrong dan tertangkap, saya tidak mau tanya lagi. Saya kembalikan ke orang tua,” tegasnya.
Menurut Suparman, keterlibatan siswa dalam tindak pidana dapat berdampak serius terhadap masa depan. Catatan kepolisian, kata dia, berpotensi menjadi persoalan ketika siswa mengikuti seleksi tertentu, termasuk sekolah kedinasan.
“Kalau sudah tercatat di kepolisian, itu merugikan dirinya sendiri. Mereka masih punya masa depan,” ujarnya.
Suparman juga meminta orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya pengawasan kepada sekolah. Kebiasaan bolos dan nongkrong, menurut dia, dapat membuka ruang bagi siswa untuk menerima ajakan atau provokasi dari pihak luar.
“Kita bersaudara, kita rukun. Mereka ini calon anak bangsa. Jangan sampai sengaja dipecah belah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Ia berharap para siswa lebih memilih mengejar prestasi daripada terlibat tawuran. Menurutnya, keberhasilan siswa SMKN 2 Palembang di tingkat nasional membuktikan bahwa energi anak muda dapat diarahkan untuk sesuatu yang membanggakan sekolah dan daerah.
“Jangan terprovokasi. Kalau ada informasi, verifikasi dulu. Jangan sampai anak-anak yang masih polos ini dimanfaatkan oleh orang lain,” ujar Suparman. (WNA)














