Pemkab OKI Targetkan Penurunan Prevelansi Stunting 14 Persen di 2024

Daerah, OKI465 Dilihat

OKI, SUMSELJARRAKPOS– Percepatan penurunan stunting menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) saat ini. Setelah berhasil menurunkan prevelansi stunting hingga 15,1 persen, Pemkab OKI menarget 14 persen penurunan prevalensi stunting di tahun 2024 mendatang.

Untuk memastikan hal tersebut digelar rapat koordinasi (rakor) strategi penurunan stunting bersama seluruh mitra.
Asisten bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda OKU M Lubis mengatakan pemerintah telah melakukan langkah penurunan stunting terbesar secara nasional, karena penurunan prevalensi dari 32,2 persen jadi 15,1 persen.

“Angka stunting boleh turun, tapi satu hal yang tak kalah penting indikator harus dipacu untuk maksimal agar mencapai target sesuai yang diharapkan,” ujar Lubis, dalam Rakor Strategi Percepatan Penurunan Stunting, Selasa (14/11/23).

Lubis mengatakan dalam upaya penurunan stunting perlu akselerasi dan komitmen seluruh pihak terlibat.
“Koordinasi yang berkelanjutan mutlak harus dilakukan dan merupakan kunci keberhasilan dalam pelaksanaan penurunan stunting di OKI,” urainya.

Sementara itu, Kepala DPPKB Kabupaten OKI Saparudin dalam laporannya menyampaikan hasil capaian prevalensi stunting di Kabupaten OKI 15,1 persen pada tahun 2022.

“Capaian prevelansi stunting OKI sudah cukup baik di tahun 2022 dan hal ini harus ditekan agar tercapai target 14 persen pada tahun 2024 mendatang”, ungkapnya.

Saparudin menambahkan, adapun strategi implementasi intervensi spesifik, intervensi sensitif dan lima pilar dalam percepatan penurunan stunting di OKI.

“Ada 9 strategi dalam pilar penurunan stunting yaitu pemeriksaan kesehatan dan tablet tambah darah bagi calon pengantin, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, baduta dan balita gizi kurang, tablet tambah darah untuk ibu hamil, konseling ASI eksklusif, pemberian antropometri Kit untuk posyandu, kerja sama KUA dan puskesmas, akses air minum yang layak dan sanitasi air, memastikan cakupan penerima bantuan dan meningkatkan edukasi untuk stop BABS,” jelasnya.