PALEMBANG, SUMSEL JARRAKPOS, – Pasukan bersenjata lengkap menyerbu gundukan pasir. Senapan teracung, teriakan komando terdengar tegas, dan beberapa pria bertelanjang dada langsung menyerah ketakutan.
Negeri ini tampaknya benar-benar serius memerangi kejahatan luar biasa, yaitu tambang ilegal yang pelakunya rakyat kecil, hal itu terjadi di Provinsi Bangka Belitung.
Padahal semua tahu, tambang ilegal itu bukan markas ISIS. Tapi kenapa TNI yang terlihat memimpin seolah melawan pasukan elit musuh negara?
Publik spontan bertanya, “Ini penegakan hukum atau simulasi perang di pantai? Kalau tambang ilegal itu pelanggaran hukum, polisi di mana? Jaksa bagaimana?”
Bukankah tugas TNI adalah menjaga kedaulatan negara dari ancaman militer, bukan menggerebek pengeruk pasir yang lari sambil nyeker? Atau jangan-jangan sekarang, Tambang ilegal dianggap separah invasi asing, sementara aparat penegak hukum sipil dianggap pasukan cadangan?
Kita tahu, negara harus menindak tambang ilegal. Itu jelas! Namun saat TNI tampil bak pasukan komando, publik menebak-nebak,
– Apakah polisi takut menindak?
– Apakah kejaksaan terlalu sibuk mengurus berkas?
– Atau jangan-jangan yang punya tambang bukan orang sembarangan?
Jika benar begitu, tidak heran yang dikejar hanya para pekerja yang bahkan mungkin tidak tahu siapa pemilik sesungguhnya. Negara menunjukkan kekuatan.
Sayangnya kekuatan itu turun ke lokasi yang paling lemah.
Sebab musuh yang besar yang mengendalikan alat berat, izin siluman, dan jaringan modal, sering kali tertawa di balik layar, menonton dari jauh sambil menyeruput kopi.
Sementara itu, kamera merekam aksi heroik yang “katanya” untuk menyelamatkan lingkungan.
Rakyat hanya bisa menghela napas, “Kalau negara cuma berani galak pada yang miskin, itu bukan penegakan hukum. Itu bullying berseragam.”
Jika memang tambang ilegal ancaman serius bangsa, maka mari tuntaskan sampai ke otak dan juragan tambangnya, bukan hanya memotong cabang yang tumbuh dari tanah kemiskinan.
Kalau tidak, operasi ini hanya akan menjadi bukti bahwa, Negara semakin ahli berperang. Tapi Sayangnya, musuhnya selalu rakyat sendiri.
OPINI: Ir. Feri Kurniawan
Deputi Komunitas Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) Sumsel Ir. Feri Kurniawan














