BANYUASIN, SUMSELJARRAKPOS.COM.- Sebuah mobil molen bertuliskan PT Waskita Beton Precast dengan nomor polisi B 9862 TIA bikin heboh warga Banyuasin. Mobil proyek yang sejatinya diperuntukkan untuk pembangunan Tol Palembang–Betung itu, terekam tengah mengecor jalan di wilayah Talang Kebang, Kelurahan Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin — di luar jalur proyek strategis nasional (PSN) tersebut.
Pantauan di lapangan memperlihatkan, mobil molen berlogo Waskita Precast itu berhenti di jalan penghubung antara Desa dan Kelurahan Pangkalan Balai, lalu melakukan aktivitas pengecoran di area permukiman warga. Lokasi ini jelas bukan bagian dari trase resmi proyek tol.
Warga yang menyaksikan kejadian itu pun dibuat heran.
“Kalau ini mobil proyek tol, kenapa ngecor di sini? Ini kan bukan jalur tol,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya, Selasa (11/11).
Kecurigaan pun muncul. Warga menduga, ada penyimpangan penggunaan material milik proyek negara yang mestinya digunakan di jalur tol, bukan untuk proyek lain.
“Kalau benar material tol dipakai untuk jalan lain, jelas ini harus diusut. Uang negara itu, bukan untuk proyek pribadi,” tambah warga lainnya.
Tak hanya soal lokasi pengecoran, kualitas material juga jadi sorotan. Dari hasil pengamatan di lapangan, besi behel yang digunakan terpantau kecil, tidak sebanding dengan beban kendaraan berat yang sering melintas di jalan tersebut.
“Proyek senilai hampir Rp 5 miliar itu pakai behel kecil, kami khawatir jalan cepat rusak. Truk-truk pasir dan kayu yang tonasenya berat tiap hari lewat sini. Ini rawan banget, bisa jadi ada permainan anggaran,” ungkap seorang warga dengan nada tegas.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak PT Waskita Beton Precast belum memberikan keterangan resmi terkait aktivitas mobil molen di luar jalur proyek tol. Publik kini mendesak agar perusahaan pelat merah itu segera buka suara agar tidak muncul dugaan penyalahgunaan material proyek strategis nasional.
Proyek Tol Palembang–Betung merupakan salah satu proyek besar pemerintah pusat yang diharapkan bisa mempercepat konektivitas Sumatera Selatan. Karena itu, setiap aktivitas di lapangan semestinya transparan dan sesuai prosedur agar kepercayaan publik terhadap proyek besar tersebut tidak tercoreng.(WT)














