Bisnis

M Togar Rayditya Ditunjuk Menjadi Ketua Umum APKARINDO OKUT Periode 2026–2031, Melihat Keberhasilan Tata Kelola Industri Karet Thailand – Indonesia

11
×

M Togar Rayditya Ditunjuk Menjadi Ketua Umum APKARINDO OKUT Periode 2026–2031, Melihat Keberhasilan Tata Kelola Industri Karet Thailand – Indonesia

Sebarkan artikel ini
Foto : M Togar Rayditya, Ketua Umum APKARINDO 2026-2031 Terpilih

OKU TIMUR, SUMSELJARRAKPOS – M Togar Rayditya ditunjuk sebagai Ketua Umum APKARINDO OKUT untuk masa periode 2026–2031. Penunjukan ini diharapkan menjadi momentum baru dalam memperkuat peran pengusaha muda yang progresif di sektor perkebunan karet, khususnya perkebunan karet alam agar semakin maju, produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. Amanah tersebut menjadi langkah strategis untuk mendorong kemajuan industri karet melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas bahan olah karet (BOKAR), serta perluasan kolaborasi antara petani, pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kebijakan dan kepentingan di sektor perkebunan karet alam/ rubber.

DINAMIKA HARGA KARET

Harga komoditas karet kembali menjadi perhatian. Pergerakan harga saat ini 19 Oktober 2026 yakni di level 254,7 US cent/kg atau setara dengan Rp45.484/kg yang semakin mendekati psikologis angka Rp50.000 per kilogram terus menjadi angin segar bagi para pengusaha industri dan pelaku perkebunan karet alam di Indonesia.

Kenaikan harga tersebut menunjukkan bahwa karet masih memiliki nilai ekonomi yang besar dan berpotensi menjadi salah satu komoditas perkebunan yang menarik untuk dikembangkan dalam jangka panjang. Kondisi ini sekaligus membuka kembali peluang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melihat sektor perkebunan bukan sekadar usaha tradisional, tetapi sebagai bagian dari bisnis agribisnis modern.

Di tengah dinamika harga karet dunia dan tantangan yang dihadapi petani, pembangunan sektor perkebunan karet membutuhkan pendekatan yang lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Perkebunan karet tidak hanya dipandang sebagai kegiatan budidaya, tetapi juga sebagai bagian penting dari rantai industri yang memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi daerah dan memperkuat perekonomian nasional.

M. Togar Rayditya diharapkan mampu mendorong berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas kebun, memperbaiki mutu hasil panen, memperkuat posisi tawar petani, serta membuka peluang kemitraan yang lebih luas dengan industri pengolahan dan pasar. Dengan demikian, petani karet rakyat dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik sekaligus memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap perubahan pasar.

UPAYA HILIRISASI INDUSTRI KARET ALAM

Selain itu, penguatan hilirisasi menjadi salah satu aspek penting dalam membangun masa depan industri karet Indonesia. Peningkatan nilai tambah melalui pengolahan bahan baku, pengembangan kemitraan usaha, dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menciptakan ekosistem perkaretan yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.

Kabupaten OKU Timur sendiri memiliki potensi perkebunan yang dapat terus dikembangkan sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Melalui peran APKARINDO, potensi tersebut diharapkan dapat dioptimalkan dengan memperkuat sinergi antara petani dan pelaku usaha, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong kebijakan dan program yang berpihak pada kemajuan perkebunan rakyat.

Kepemimpinan dalam masa periode 2026–2031 ini diharapkan tidak berhenti pada penguatan organisasi, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor perkebunan karet. Orientasinya adalah membangun tata kelola perkebunan yang lebih baik, meningkatkan nilai ekonomi komoditas karet, dan memperluas peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam sektor agribisnis yang produktif dan menjanjikan.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, penunjukan M. Togar Rayditya sebagai Ketua Umum APKARINDO OKU Timur terpilih diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan perkebunan karet Indonesia yang lebih maju, mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

“Perkebunan karet bukan sekadar komoditas penting ekonomi masyarakat, melainkan aset strategis bangsa yang perlu dikelola secara modern dan terintegrasi untuk menciptakan kesejahteraan petani, memperkuat industri nasional, dan membangun masa depan agribisnis Indonesia.” tutup Togar ***