BanyuasinDaerahKesehatanTak Berkategori

Kasus HIV di Banyuasin Jadi Sorotan, Publik Ingatkan Risiko Perilaku Sosial dan Pentingnya Pencegahan

44
×

Kasus HIV di Banyuasin Jadi Sorotan, Publik Ingatkan Risiko Perilaku Sosial dan Pentingnya Pencegahan

Sebarkan artikel ini

BANYUASIN,SUMSEL JARRAKPOS.COM. — Maraknya kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Banyuasin mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), pemerintah mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran,

kewaspadaan, serta berperan aktif dalam mencegah penularan HIV. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, dr. Indah Daryane, M.Kes, melalui Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), menyoroti masih tingginya potensi penularan HIV di tengah masyarakat. Ketua Tim Kerja (Katimja) P2P Dinkes Banyuasin, Sulardi, menyebut salah satu faktor risiko penularan HIV berkaitan erat dengan perilaku sosial berisiko.

Menurut Sulardi, perilaku seksual berisiko, termasuk hubungan sesama jenis lelaki dengan lelaki (LSL), menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko penularan HIV apabila tidak disertai kesadaran kesehatan dan langkah pencegahan yang tepat.

“Salah satu penyebab penularan HIV berasal dari perilaku sosial berisiko, termasuk hubungan sesama jenis. Ini menjadi faktor risiko yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak,” ujar Sulardi, jum,at 30/01/26
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, pada tahun lalu tercatat sekitar 25 warga Banyuasin terdeteksi mengidap HIV. Sementara untuk tahun berjalan, pihaknya belum dapat membeberkan angka pasti.

“Untuk tahun ini belum bisa kami sampaikan, karena masih dalam proses pengecekan dan pendataan administrasi terhadap masyarakat yang terindikasi maupun terkonfirmasi HIV,” jelasnya.
Meski demikian,

Sulardi menegaskan bahwa penanganan HIV tidak hanya berfokus pada pendataan jumlah kasus semata. Upaya pencegahan, edukasi berkelanjutan, serta pengobatan yang terkontrol menjadi langkah utama yang terus digencarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang humanis dan tidak diskriminatif dalam penanganan HIV. Menurutnya, stigma justru dapat menghambat upaya pencegahan dan membuat masyarakat enggan memeriksakan diri.

Sejumlah pemerhati kesehatan turut mengingatkan agar pencegahan HIV tidak diarahkan pada pelabelan kelompok tertentu. HIV dapat menular melalui berbagai faktor risiko, seperti penggunaan jarum suntik tidak steril, hubungan seksual tidak aman, hingga penularan dari ibu ke anak.

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin pun mengimbau masyarakat agar tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan, meningkatkan kesadaran akan perilaku hidup bersih dan sehat, serta aktif mengikuti program pencegahan HIV yang diselenggarakan pemerintah.

Upaya ini diharapkan mampu menekan angka penularan HIV di Banyuasin sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa penanganan HIV merupakan tanggung jawab bersama, bukan isu yang dibebankan pada kelompok tertentu saja.(WT)