Lifestyle

Muhamad Nasir: Dari Kata-Kata Menuju Peradaban

2
×

Muhamad Nasir: Dari Kata-Kata Menuju Peradaban

Sebarkan artikel ini

Hidup saya tidak jauh dari tiga dunia: pendidikan, jurnalistik, dan kebudayaan. Ketiganya saling menguatkan dan menjadi jalan pengabdian.”

SEBUAH AWAL DARI DESA BERINGIN

Pada 16 Mei 1969, di Desa Beringin, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, lahir seorang anak laki-laki yang kelak menghabiskan hidupnya di antara buku, ruang kelas, ruang redaksi, dan panggung kesenian.

Muhamad Nasir, putra tunggal pasangan almarhum Puadi Zen dan almarhumah Maryam, tumbuh dalam lingkungan sederhana yang menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan pentingnya pendidikan.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN 33 Tanjungkarang (1983), dilanjutkan ke SMPN 3 Tanjungkarang (1985), dan SMAN Wayhalim Tanjungkarang (1987).

MAHASISWA YANG JATUH CINTA PADA KATA-KATA

Ketika banyak mahasiswa sibuk mengejar nilai kuliah, Muhamad Nasir justru mulai menulis.

Tulisan-tulisannya mulai dikirim ke berbagai media massa sejak tahun 1991. Sebagian dimuat, sebagian ditolak. Namun dari proses itulah mental seorang penulis dibentuk.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di STKIP PGRI Palembang pada tahun 1994, melanjutkan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Palembang dan lulus tahun 2011, kemudian menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2014. Baginya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.

WARTAWAN YANG MENYAKSIKAN PERUBAHAN ZAMAN

Karier jurnalistiknya dimulai pada tahun 1996 di Harian Sumatera Ekspres. Di sinilah ia belajar bahwa berita bukan sekadar tulisan, melainkan rekaman kehidupan masyarakat.

Perjalanan profesionalnya kemudian berlanjut ke:

• Harian Transparan

• Harian Sore Sinar Harapan

• Kontributor Bisnis Indonesia Sumatera Selatan

Dari berbagai media itu, ia menyaksikan perubahan sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan yang terjadi di Sumatera Selatan selama lebih dari dua dekade.

PEMIMPIN REDAKSI DI BERBAGAI GENERASI MEDIA

Muhamad Nasir termasuk sedikit jurnalis yang mengalami langsung transisi dari media cetak ke media digital.

Ia pernah menjadi:

• Redaktur Pelaksana Media Publik

• Pemimpin Redaksi Grha Media

• Redaktur Pelaksana Agung Post

• Pemimpin Redaksi Koran Mandiri

• Pemimpin Redaksi Majalah Kibar

• Pemimpin Redaksi DetikSumsel.com (2022–2023)

• Pemimpin Redaksi SumselJarrakPos.com (2023–sekarang)

• Pemimpin Umum KetikPos.com

Baginya, teknologi boleh berubah, tetapi prinsip jurnalistik harus tetap dijaga.

DOSEN YANG MENGAJARKAN LITERASI

Selain wartawan, Muhamad Nasir adalah pendidik.

Sejak menyelesaikan pendidikan sarjana, ia mengabdikan diri sebagai dosen tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas PGRI Palembang.

Ia juga pernah mengajar di:

• STISIPOL Candradimuka

• Universitas Tridinanti

• Universitas IBA

• Universitas Taman Siswa

• Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta

Ribuan mahasiswa pernah merasakan sentuhan pemikiran dan pengalaman praktis yang dibawanya dari dunia jurnalistik ke ruang kuliah.

PENULIS YANG MENOLAK BERHENTI BERKARYA

Muhamad Nasir tidak hanya menulis berita.

Ia juga menulis sastra, buku referensi, dan berbagai karya pemikiran.

Kumpulan cerpennya “Kaos Politik” terbit tahun 2007.

Dua cerpennya, “Cinta Tak Berbumbu” dan “Gila Berhitung”, dimuat dalam buku “Bunga Rampai 8 Jurnalis dari Bumi Sriwijaya”.

Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain:

• Jejak Politik Syahrial Oesman (2006)

• Simpul Kasih Jurai 4 Lawang (2009)

• Kaya dengan Menulis Karya Sastra (2010)

• Siapapun Bisa Menjadi Humas (2012)

• Siapapun Bisa Menjadi Wartawan (2013)

• Keterampilan Pers dan Jurnalistik Berbasis Gender (2016)

MENJAGA DENYUT KEBUDAYAAN PALEMBANG

Di dunia kebudayaan, Muhamad Nasir dikenal sebagai sosok yang aktif menghubungkan seniman, akademisi, media, dan masyarakat.

Ia pernah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang periode 2019–2024.

Pada Musyawarah Seniman Palembang VI, ia terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Palembang periode 2024–2029.

Di bawah kepemimpinannya, Dewan Kesenian Palembang berupaya menjadi rumah bersama bagi para pelaku seni dan budaya.

TETAP RELEVAN DI ERA DIGITAL

Banyak tokoh besar berhenti ketika zamannya berubah. Muhamad Nasir memilih beradaptasi.

Di era digital, ia aktif mengembangkan ruang dialog melalui:

• Podcast Detik Sumsel

• Podcast KetikPos

• Idea Vodcast ICMI Sumatera Selatan

• Podcast Lentera Pendidikan

Melalui podcast dan vodcast, ia terus menyebarkan gagasan tentang pendidikan, jurnalistik, kepemimpinan, literasi, dan kebudayaan kepada generasi yang lebih muda.

ORGANISASI DAN PENGABDIAN

Muhamad Nasir juga aktif dalam berbagai organisasi profesi.

Di lingkungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ia pernah menjadi:

• Sekretaris PWI Reformasi Sumatera Selatan

• Anggota Dewan Kehormatan PWI Sumsel (2014–2019)

• Anggota Dewan Kehormatan PWI Sumsel (2024–2029)

Baginya, organisasi bukan tempat mencari jabatan, melainkan sarana menjaga marwah profesi.

KELUARGA ADALAH AKAR

Di balik kesibukan yang padat, Muhamad Nasir adalah sosok Kepala  keluarga. Ia menikah dengan Nurjanah dan dikaruniai dua anak:

• Carisna Aprianti

• Muhamad Nurhidayatullah Pascadh

Kebahagiaan keluarga semakin lengkap dengan kehadiran dua cucu:

• Sean Anandyaksa Abgari

• Raza Artava Sakala

Keduanya merupakan buah hati pasangan Carisna Aprianti dan M. Andy Saputra.

JEJAK YANG TERUS BERLANJUT

Muhamad Nasir adalah gambaran tentang seseorang yang tidak membatasi dirinya pada satu profesi.

Ia adalah wartawan yang mengajar.

Ia adalah dosen yang menulis.

Ia adalah penulis yang menggerakkan kebudayaan.

Ia adalah budayawan yang memahami pentingnya media.

Lebih dari tiga puluh tahun ia mengabdikan diri melalui pendidikan, jurnalistik, sastra, dan kebudayaan.

Dan hingga hari ini, perjalanan itu masih terus berlanjut.

Sebab bagi Muhamad Nasir, hidup bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diwariskan kepada masyarakat.**