Pendidikan

Ketika Panggung Belajar Menutup Tirai: Cerita 23 Mahasiswa Magang yang Pulang Membawa Seni dari DKP

10
×

Ketika Panggung Belajar Menutup Tirai: Cerita 23 Mahasiswa Magang yang Pulang Membawa Seni dari DKP

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, SUMSELJARRAKPOS — Ada yang berbeda di Gedung Kesenian Palembang, Rabu (9/12/25) pagi. Tidak ada sorot lampu, tidak ada tirai megah yang dibuka.

Namun suasananya justru lebih hangat dari pertunjukan mana pun: pamitan 23 mahasiswa magang FKIP Universitas PGRI Palembang.

Bukan drama, bukan adegan yang dipersiapkan.

Hanya ketulusanyang memenuhi ruangan seperti cahaya lembut setelah panggung ditutup.

Selama tiga bulan, mereka berjalan sebagai pengamat, pekerja, pembantu teknis, pemelajar diam-diam, hingga akhirnya menjadi bagian dari nadi kecil yang ikut menggerakkan Dewan Kesenian Palembang (DKP).

Datang dengan Rasa Penasaran

Mereka datang dari dua dunia:

Prodi Seni Pertunjukan (10 mahasiswa):

Desty Dian Safitri

Desi Isnaniah

Andrean Agriano

Gali Prakasiwi

Citra Resmi Sangdia Pitaloka

Tesya Raudana Dewi

Naziva Putri Permatasari

Winda Wulandari

Fatimah Azzahra Gita Dranie

Crisna Theopilus Zebua

Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (13 mahasiswa):

Desi Ashari

Desi Rahmawati

Isyiqa Octa Ramadhani

Abel Dwi Syahrani

Citra Aprilia Andini

Putri Rana

Alpen Saputra

Sinta Utari

Ridatul Jannah

Vina Mardiana

Luvia Karfika

Dea Tri Utami

Rani Imelda Syaputri

Tiga belas dari bahasa, sepuluh dari seni. Dua dunia yang bertemu dalam satu rumah, yakni DKP.

Rumah Bernama DKP

Selama magang, mereka bertemu dengan beragam karakter dan dinamika. Para pengurus DKP yang hadir dalam acara pamitan membentuk sebuah mozaik lengkap:

M. Nasir, M.Pd. – Ketua DKP

Faldy Lonardo – Sekretaris Jenderal

Mohamad – Komite Musik

Slamet Nugroho – Komite Sastra

Joko Susilo – Komite Seni Rupa

Yos Sudarson & Cheirman – Komite Teater

Irfan & Inug – Komite Film

Mpit – Komite Tari

Said – Komite Musik

Dr. KMS Ari Panji – Litbang

Pengurus lainnya: Caca, Salwa Pratiwi, Adam

Mereka adalah wajah-wajah yang selama ini diamati para mahasiswa: yang tetap sabar meski ruang rapat sempit, yang menjawab pertanyaan sederhana hingga rumit, yang menunjukkan bahwa seni bukan hanya panggung tetapi kerja, ritme, dan dedikasi.

Fokus Utama: Suara Mahasiswa

Jika acara itu punya inti emosional, maka inti itu terletak pada dua suara yang mewakili seluruh perjalanan:

Fatimah Azzahra Gita Dranie (Seni Pertunjukan)

Alpen Saputra (Pendidikan Bahasa Indonesia)

Mereka bukan pembicara profesional, namun justru itulah yang membuat kata-kata mereka begitu jujur.

“Kami Datang sebagai Penonton, Pulang sebagai Pelaku Kecil Dunia Seni.” kata Fatimah

Dengan sedikit gugup, Fatimah menceritakan bagaimana banyak hal tidak dipelajari melalui instruksi, melainkan lewat pengamatan.

“Kami belajar bahwa seni tidak lahir dari panggung saja, tetapi dari ruang-ruang kecil yang jarang terlihat: ruang latihan, ruang administrasi, ruang dokumentasi… bahkan ruang obrolan santai.”ungkapnya

Ia tersenyum mengingat betapa sering mereka salah ruangan, salah jadwal, atau salah menangkap instruksi namun para pengurus selalu menanggapinya dengan tawa hangat.

“Kami merasa tidak hanya diterima, tetapi disayangi sebagai bagian dari proses.”

Alpen: “Magang Ini Mengajari Kami Bekerja dengan Hati.”

Alpen berbicara lebih tenang. Ia mengaku awalnya mengira magang hanya soal tugas, laporan, dan rutinitas teknis. Ternyata tidak.

“Magang ini mengajarkan cara membaca manusia, bukan hanya membaca teks. Kami belajar bahasa yang tidak tertulis: bahasa kerja sama, bahasa kesabaran, bahasa kepercayaan.”

Ia menutup dengan kalimat yang membuat pengurus tersenyum:

“Kami mungkin banyak salah—salah ucap, salah langkah, bahkan salah masuk ruangan. Tapi dari kesalahan itu kami justru belajar menjadi lebih manusia.”

Momentum Pamitan

Dua dosen pembimbing yang hadir, Hasan, M.Sn. (Seni Pertunjukan) danDr. Darwin Effendi, M.Pd. (Pendidikan Bahasa Indonesia) menguatkan apa yang disuarakan mahasiswa.

“Magang bukan tentang apa yang kalian kerjakan, tetapi siapa kalian setelah mengerjakannya.”tegas Dr. Darwin

Sementara itu, Ketua DKP M. Nasir menambahkan seni butuh penerus yang bukan hanya bisa tampil tetapi bisa bekerja.

Tirai Ditutup, Jalan Dibuka

Magang ini memang selesai. Namun ceritanya tidak berhenti.

Di luar gedung, Palembang akan terus bernyanyi melalui seni.

Dan di dalam diri mereka, pengalaman tiga bulan itu telah menjadi bekal yang: tidak bisa dipinjam, tidak bisa diwariskan, dan hanya bisa diperoleh dengan keberanian terjun langsung.

Mereka datang sebagai mahasiswa.

Mereka pulang sebagai bagian kecil dari ekosistem seni Palembang.

Acara ditutup dengan pantun hangat dari Ketua DKP:

Sungguh indah rumah papan

Apalagi kayunya dari Selapan

Terima kasih kami ucapkan

Semoga kita sukses di masa depan

Sebuah pamit yang tidak mengakhiri apa pun melainkan membuka babak baru bagi 23 jiwa muda yang telah mencicipi dunia seni dari jarak paling dekat. (MN)